Breaking News:

Penanganan Covid

Selain 3M, IDI Anjurkan Buka Jendela di Semua Ruangan saat Pandemi Covid-19

selain penguatan kedisplinan masyarakat terhadap protokol kesehatan 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan).

WARTA KOTA/WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Warga tengah mencuci tangan menggunakan wastafel publik di Kawasan Sea World, Ancol, Jakarta Utara, Minggu (3/1/2020). Sea World Ancol terus menerapkan protokol kesehatan bagi pengunjung dengan terus mengedepankan 3M saat akan masuk ke area Aquarium raksasa. Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih mengatakan, selain penguatan kedisplinan masyarakat terhadap protokol kesehatan 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan).

Upaya lain yang perlu dilakukan pemerintah adalah mensosialisasikan anjuran membuka ventilasi atau jendela di semua ruangan atau tempat umum baik tempat usaha, perkantoran, sekolah, tempat ibadah, dan lainya.

"Ventilasi yang terbuka dapat menghilangkan viral load dari orang-orang yang asimtomatik atau orang tanpa gejala. Jika tidak ada jendela maka bisa menggunakan pembersih udara atau air purefier,"  jelas Daeng dalam keterangan pers yang diterima Kamis (11/3/2021).

Daeng menerangkan, dari data yang didapati penularan virus dapat melalui aerosol, sehingga paling sulit mengendalikan orang-orang yang asimtomatis atau tanpa gejala.

 WHO mengingatkan dunia bahwa penyebaran SARSCOV-2 adalah transmisi airborne (melalui droplet udara) microdroplets (5pm).

Baca juga: Tingkat Kematian Akibat Covid-19 Tertinggi di Asia, Ini yang Perlu Disikapi Menurut PB IDI

 Transmisi aerosol tidak mesti batuk atau bersin, bernafas normal dapat menularkan.

 Ketika bernafas dan berbicara pun dapat mengeluarkan virus. Penyebaran dalam bentuk droplets (batuk, bersin, nafas dan berbicara) berukuran >5 pm akan mengendap di lantai, sedangkan ukuran <0.8 - 10 pm tetap ada di udara hingga 1-3 jam (virus bisa hidup).

Ukuran aerosols virus terbanyak (0.5 hingga 5 pm) adalah ukuran paling lazim terhirup nafas.

Penularan dapat terjadi tanpa disadari karena data global 1 dari 3 orang bisa bersifat asimptomatik / pre-symptomatik (tidak bergejala, tetapi mempunyai kemampuan menyebarkan virus sama dengan orang terinfeksi yang bergejala).

"Apabila ada seseorang yang terinfeksi baik bergejala maupun tidak bergejala, secara tidak disadari menghembuskan nafas pun dapat menyebarkan virus," ujar dia.

 Dilaporkan, saat orang terinfeksi akan menyebarkan virus dengan rata-rata penularan terjadi 35% dari droplet (terutama jarak dekat), 57% dari inhalasi (microdroplet), dan hanya 8.2% dari kontak.

Pada keadaan ruangan yang tertutup, dimana udara berputar-putar, atau transmisi pada ruang konferensi dengan udara AC yang berputarputar maka berpotensi menjadi masalah.

Oleh karena itu sistem ventilasi pada umumnya saat ini adalah dengan menggunakan AC central, dengan sirkulasi udara yang buruk dan kurang cahaya ultraviolet, maka virus SARS-CoV-2 dapat bertahan hidup hingga 3 jam dalam ruangan.

Faktor lain seperti iklim, cuaca, suhu, kelembaban dan sinar matahari juga mempengaruhi penyebarannya.

"Jadi jika ruangan yang tidak bisa membuka jendela harus mengunakan pembersih udara (air purifier) yang dapat menyaring dan membunuh virus 99,9%. Sehingga kegiatan sekolah, kantor, tempat usaha dapat kembali aktif," jelas dr.Daeng.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved