Breaking News:

Virus Corona

Sosiolog UI Sebut Perlu Bangun Ketangguhan Bangsa untuk Hadapi Pandemi Covid-19

Menurut Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Imam Prasodjo, untuk menghadapi pandemi perlu dibangun ketangguhan bangsa demi hadapi pandemi.

freepik.com
Ilustrasi Covid-19.Sosiolog UI Sebut Perlu Bangun Ketangguhan Bangsa untuk Hadapi Pandemi Covid-19 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pandemi Covid-19 terus berlangsung. Lonjakan kasus infeksi pun terjadi kembali sejak awal Juli.

Menurut Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Imam Prasodjo, untuk menghadapi pandemi perlu dibangun ketangguhan bangsa.

Dan ketangguhan bangsa dibentuk dari ketangguhan komunitas. Di Indonesia sendiri, kata Imam, komunitas terfragmentasi oleh suku, ras, agama dan sebagainya.

Baca juga: Guru Besar FKUI Sarankan Tindak Pelanggar PPKM Darurat Demi Keselamatan Semua

Baca juga: Sosiolog UI Sebut Covid-19 adalah Peringatan Bagi Kerusakan dari Pembangunan

"Yang sekarang ini suku, agama, wilayah tertentu menurun ketangguhan. Tidak ada keseimbangan. Ada wilayah menjadi tempat penularan. Ada kematian tinggi," ungkapnya lewat virtual, Rabu (21/7/2021).

Ketangguhan komunitas, menurut Imam terbentuk karena ada tiga hal.

Sosiolog Imam Prasodjo
Sosiolog Imam Prasodjo (YouTube Talk Show tvOne/Tangkapan Layar)

Pertama, tingkat disiplin dalam menegakkan protokol kesehatan.

Kedua, ketangguhan tubuh dalam membangun imunitas.

Ketiga, kesiapan vaksin dan vaksinasi untuk perlindungan masyarakat.

"Ironi nya di Indonesia vaksin yang sudah datang banyak yang menolak. Kita menjadi rentan, bandel tidak mau vaksin, prokes rendah. Apa lagi ketangguhan tubuh. Yang muda bisa bertahan, yang tua dan komorbid bisa meninggal," katanya lagi.

Ini akan terus berlangsung, dimana klaster korban paling banyak.

Mau tidak mau terseleksi mana yang rentan.

Namun kata Imam, orang yang mempunyai edukasi dan mampu secara materi lebih terproteksi.

"Orang terdidik, kaya, mereka mampu prokes tetap mereka paling aktif untuk mendapatkan vaksin. Sementara relatif miskin, tidak terdidik, ekonomi lemah, dia gak mau vaksin, disiplin Kesehatan dan paling rapuh ketahanan tubuh," ucapnya.

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Anita K Wardhani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved