Breaking News:

Virus Corona

Sempat Anjlok 80 Persen, Warteg 21 Kembali Menerima Pengunjung untuk Makan di Tempat 20 Menit

Novitria salah satu pedagang di Warteg 21 menjelaskan selama PPKM, kondisi warteg sepi pengunjung. 

Tribunnews/Ferryal Immanuel
Suasana Warteg 21, di Jalan Tanah Mas Raya, Pulomas, Jakarta Timur pada saat makan siang. Rabu (28/7/2021). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pada saat penerapan PPKM Darurat, Warteg 21 yang berada di Jalan Tanah Mas Raya, Pulomas, Jakarta Timur sempat anjlok 80 persen karena tidak bisa menerima pembeli untuk makan di tempat. 

Novitria salah satu pedagang di Warteg 21 menjelaskan selama PPKM, kondisi warteg sepi pengunjung. 

"Selama peraturan PPKM dilonggarkan, Warteg 21 kembali menerima pembeli untuk makan di tempat. Ia menjelaskan bahwa omzet yang didapatkan mulai meningkat dibandingkan pada saat PPKM Darurat," ucap Novitria, pedagang Warteg 21, kepada Tribunnews, Rabu (21/7/2021). 

Dia menjelaskan bahwa pada saat penerapan PPKM Darurat pendapatan yang didapatkan perhari kurang lebih Rp 3 Juta. 

"Pendapat tersebut masih kotor, belum dihitung untuk modal dan gaji karyawan yang harus dibayarkan pertiap hari," ucapnya. 

Novitria menjelaskan bahwa pendapatan normalnya sekitar Rp 5 Juta perhari. 

Baca juga: Makan di Warteg Hanya 20 Menit, Pedagang Warteg 21 Tidak Keberatan 

"Kalau untuk gaji karyawan itu kita bayar perhari, untuk perorang dikenakan Rp 125.000 hingga Rp 150.000 perorang. Biasanya yang membantu masak dan membantu hingga malam hari, gajinya lebih banyak," ucapnya kepada Tribunnews. 

Seperti diketahui bahwa Warteg 21, buka dari pukul 07.00 WIB hingga 20.00 WIB. 

Selain itu, Novitria juga menuturkan bahwa sebelum pandemi Covid-19, Warteg 21 memiliki sekitar 15 karyawan karena pengunjung yang datang sangat banyak. 

"Untuk sekarang ini, karyawan yang aktif hanya 5 orang saja dan itu juga termasuk keluarga kita sendiri. Karena untuk bayar gaji karyawan, tidak menutup," ucapnya. 

Novitria mengungkapkan bahwa setiap pengunjung diimbau untuk tetap mencuci tangan sebelum masuk dan menggunakan masker usai makan. 

"Tetapi kalau untuk makan terus kita larang terkadang rasa aneh saja karena takutnya pengunjung mereka tidak nyaman. Paling kesadaran diri masing-masing saja," ucapnya. 

"Untuk sekarang makan hanya dibatasi 20 menit menurut saya cukup, intinya tetap jaga protokol kesehatan selama berada di warteg," ucapnya. 

Ia berharap kedepannya Pemerintah tidak memberikan kebijakan untuk melarang makan di tempat lagi karena dapat menganggu perekonomian para pedagang warteg 21. 

"Saya juga berharap agar pandemi covid-19 serta vaksinasi segera dituntaskan. Agar indonesia dapat kembali pulih," tutupnya. 

Penulis: Ferryal Immanuel
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved