Virus Corona

Malaysia Izinkan Penggunaan Vaksin Merk Berbeda Sebagai Booster

Perlu diketahui, sebanyak lebih dari 87 persen populasi orang dewasa di Malaysia telah menerima dua dosis vaksin Covid-19.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Hendra Gunawan
TRIBUNNEWS/Jeprima
Ilustrasi vaksin booster 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, PUTRA JAYA - Pemerintah Malaysia akan melanjutkan rencana vaksinasi heterolog untuk suntikan dosis penguat (booster) vaksin virus corona (Covid-19) dengan menggunakan vaksin yang berbeda dari yang diterima oleh individu pada dosis pertama dan kedua.

Pernyataan ini disampaikan Menteri Kesehatan (Menkes) Malaysia Khairy Jamaluddin, pada hari Senin.

Baca juga: Suntikan Dosis Pertama Vaksinasi Covid-19 Indonesia Lampaui Jepang, Kini di Urutan 5 Dunia

Dikutip dari laman Channel News Asia, Senin (4/10/2021), menanggapi pertanyaan Anggota Parlemen (MP) Beaufort Azizah Mohd Dun, ia mengatakan bahwa pemerintah Malaysia mengizinkan penggunaan dosis booster dengan vaksin berbeda merek.

"Kami mengizinkan vaksinasi heterolog di mana kami mencampur vaksin untuk dosis booster mereka, yang berbeda dari vaksin pertama dan kedua, untuk diluncurkan pada bulan ini. Studi tentang keamanannya pun telah dilakukan dan kami yakin ini aman untuk digunakan," kata Khairy.

Perlu diketahui, sebanyak lebih dari 87 persen populasi orang dewasa di Malaysia telah menerima dua dosis vaksin Covid-19.

Sarawak mulai memberikan suntikan booster pada bulan ini, menjadikannya sebagai negara bagian pertama yang memulai inisiatif dengan fokus pada kelompok berisiko tinggi berusia 60 tahun ke atas, serta mereka yang memiliki komorbiditas serius.

Baca juga: Satgas Ingatkan Masyarakat Waspadai Hoaks Soal Vaksin Covid-19

Pfizer, AstraZeneca dan Sinovac termasuk diantara vaksin yang telah disetujui untuk digunakan dalam program vaksinasi nasional Malaysia.

Pekan lalu, pemerintah negara itu mengaku telah memberikan persetujuan bersyarat untuk penggunaan vaksin Sinovac pada remaja berusia antara 12 hingga 17 tahun, selain Pfizer.

Sebelumnya pada hari Senin lalu, Khairy mengatakan bahwa mereka yang tidak dapat menerima vaksin Covid-19 karena faktor yang terkait kondisi medis, dapat mengajukan permohonan sertifikat digital khusus atau pengecualian vaksinasi melalui dinas kesehatan kabupaten.

Namun, ia menekankan bahwa mereka tetap harus mendapatkan verifikasi mengenai kondisi mereka dari praktisi medis yang terdaftar.

"Sertifikat digital melalui MySejahtera akan diperoleh dalam waktu seminggu jika aplikasi yang diajukan lengkap dan memenuhi persyaratan yang ditentukan," kata Khairy saat sesi tanya jawab di parlemen negara itu.

Baca juga: Fauci Ajak Warga Amerika untuk Tetap Divaksin Meski Obat dari Merck Bisa Turunkan Risiko Kematian

Pada hari Senin, Malaysia mencatat 8.075 kasus baru Covid-19, ini menjadi hari kedua berturut-turut yang menunjukkan bahwa kasus baru di negara itu telah turun di bawah angka 10.000.

Saat ini ada lebih dari 2,2 juta kasus secara nasional.

Halaman
12
  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved