Breaking News:

Virus Corona

Penelitian Sebut 44 Persen Lansia Tak Mau Divaksin

Karena itu perlu penyampaian edukasi yang mendalam terkait pentingnya vaksinasi. Terutama lansia yang berisiko lebih tinggi tertular Covid-19. 

Editor: Willem Jonata
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Ilustrasi para lansia yang masih sehat di hari tuanya. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Baru-baru ini, terdapat penelitian dari Johns Hopkins University yang menyatakan jika sebanyak 67 persen responden belum mendapat suntikan di Indonesia karena keengganan mereka mencari vaksin Covid-19.

Dari penelitian tersebut, terlihat bahwa laki-laki memiliki pandangan lebih bersikap negatif terhadap vaksin ketimbang perempuan.

Selain itu, penelitian ini juga menangkap pandangan orang lanjut usia terhadap vaksin. 

Pada kelompok lansia yang berusia di atas 55 tahun, sebanyak 44 persen melaporkan kemungkinan tidak akan vaksin. Sedangkan 29 persen mereka yakin tidak memerlukan vaksin.

Hal ini dipaparkan oleh perwakilan Communication Science dan Research Jhons Hopkins Douglas Storey, dalam seminar virtual. 

Oleh karena itu perlu penyampaian edukasi yang mendalam terkait pentingnya vaksinasi. Terutama lansia yang berisiko lebih tinggi tertular Covid-19. 

Baca juga: Ahli Imunisasi Dunia Dukung Vaksin Booster untuk Lansia dan Kelompok Imun Lemah

Baca juga: Akselerasi Vaksinasi Covid-19 Bagi Lansia Harus Didukung Masyarakat

"Penyampaian vaksin perlu difokuskan pda kelompok lansia dengan memerhatian hambatan mereka," ungkap Douglas, Rabu (13/10/2021). 

Data lain menunjukkan alasan penyebab lansia tidak ingin melakukan vaksin. Kira-kira sekitar 44 persen takut akan efek samping. Lalu 19 persen yakit mereka tidak memerlukan vaksin. 

Baca juga: Target Vaksinasi Lansia Belum Tercapai, Benarkah Stok Vaksin Terbatas? Ini Penjelasan Kemenkes 

Douglas mengatakan jika perlu adanya program komunikasi yang memberikan edukasi pada lansia. Khususnya penekanan pada hal apa yang menjadi hambatan dan masalah yang dihadapi. 

Sampai akhir September, masih dalam survei yang sama, data menunjukkan ada keraguan untuk belum vaksin dikarenakan 49 persen merasa cemas tentang efek samping. Sedangkan 37 persen menunggu untuk melihat keamanan.

Douglas menyebutkan selain mencari tahu apa yang menjadi hambatan, penyampaian pesan perlu difokuskan pada keamanan vaksin dan efek samping akibat Covid-19.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved