Breaking News:

Virus Corona

Ahli Imunisasi Dunia Dukung Vaksin Booster untuk Lansia dan Kelompok Imun Lemah

Ahli imunisasi internasional merekomendasikan agar lansia dan kelompok gangguan imunologis diberikan vaksin tambahan booster.

TRIBUNNEWS/Jeprima
Petugas medis saat menunjukkan vaksin Covid-19 Moderna di Puskesmas Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Senin (9/8/2021). Penyuntikan dosis ketiga itu dimaksudkan untuk memberikan proteksi tambahan kepada petugas kesehatan, terutama bagi yang merawat pasien Covid-19.?Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan?booster? vaksin untuk tenaga kesehatan (nakes) ditargetkan selesai pada minggu kedua Agustus 2021 dengan jumlah nakes yang menjadi prioritas penerima vaksin sebanyak 1.468.764 orang. Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ahli imunisasi internasional merekomendasikan agar lansia dan kelompok gangguan imunologis diberikan vaksin tambahan atau booster.

"Mereka yang berusia 60 tahun ke atas yang sudah menerima vaksin inaktivasi merk Sinovac dan Sinopharm perlu ditawarkan untuk mendapat suntikan dosis ke tiga homolog," ujar Guru Besar FKUI Prof Tjandra Yoga Aditama dalam keterangannya, Rabu (13/10/2021).

Penggunaan vaksin heterolog sebagai suntikan ketiga dapat juga dipertimbangkan berdasarkan ketersediaan dan akses terhadap vaksin yang ada.

Ditegaskan dalam menerapkan rekomendasi ini maka negara harus terlebih dahulu berupaya maksimal untuk cakupan dua kali suntikan vaksin.

"Kemudian memberikan suntikan ketiga yang dimulai dari para lanjut usia," imbuh mantan direktur WHO Asia Tenggara ini.

Baca juga: PM Jepang Fumio Kishida Persiapkan Vaksinasi Booster, Paling Cepat Dimulai Desember 2021

Pada pertemuan itu SAGE juga melakukan analisa vaksin Covaxin yang diproduksi perusahaan India Bharat Biotech.

SAGE juga merekomendasikan pada mereka dengan gangguan imunologis atau immunocompromised sedang dan berat untuk perlu ditawarkan suntikan tambahan atau booster dengan vaksin-vaksin yang sudah mendapat Emergency use of Listing (EUL) dari WHO.

"Hal ini karena mereka tidak mendapat respon adekuat sesudah mendapatkan vaksinasi Covid-19 selama ini, dan akibatnya mereka jadi ber risiko tinggi untuk dapat Covid-19 yang berat," jelas dia.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved