Ibadah Haji 2026
Lembar Demi Lembar Daun Pisang Antar Mbah Painah ke Tanah Suci
Kisah Mbah Painah akhirnya bisa menjejakkan kaki di Tanah Suci dari hasil menjual daun pisang.
"Sugih (kaya)." Semua yang mendengar langsung tertawa.
Lalu ia menambahkan kalimat yang mungkin menjadi rahasia kebahagiaan hidupnya selama ini.
"Nggih sugih slamet, sugih waras, nek sugih waras enten rezeki (Ya, selalu selamat, sehat, kalau sehat kan ada rezekinya)," ucapnya.
Enggan Dibadalkan
Semangat Mbah Painah selama menjalani ibadah haji turut mendapat perhatian dari Ketua Kloter YIA 22, Muhasyim.
Menurutnya, sejak masih di Tanah Air, petugas telah memberikan edukasi dan pendampingan khusus kepada jemaah lanjut usia agar mempersiapkan diri menghadapi rangkaian ibadah haji, terutama saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Petugas bahkan menawarkan skema badal lempar jumrah bagi jemaah lansia yang dikhawatirkan kelelahan atau memiliki risiko kesehatan.
Namun tidak sedikit jemaah lanjut usia yang memilih menjalankan sendiri prosesi tersebut, termasuk Mbah Painah yang bersikeras ingin menjalani seluruh rangkaian ibadah secara mandiri.
"Termasuk Mbah Painah ini. Sama sekali tidak mau dibadalkan karena merasa berangkat haji itu hanya sekali seumur hidup. Makanya beliau berusaha melaksanakan lempar jumrah mulai tanggal 10 sampai 12 Zulhijah secara mandiri," katanya.
Meski demikian, Muhasyim menegaskan petugas tetap menghormati keputusan jemaah selama kondisi kesehatannya memungkinkan.
"Kalau jemaah lansia merasa sehat dan sanggup, kami juga tidak bisa melarang. Yang penting kami terus mengedukasi dan mendampingi," ujar dia.
Di mata para petugas, semangat yang ditunjukkan Mbah Painah menjadi salah satu cerita yang paling membekas selama penyelenggaraan haji tahun ini.
"Semangatnya luar biasa. Mudah-mudahan beliau selalu sehat sampai nanti kembali ke Tanah Air," harapnya.
Kini, setelah seluruh rangkaian ibadah haji selesai dijalani, Mbah Painah sudah memikirkan satu hal yang sangat membumi: kembali berjualan.
Usaha jualan daun pisangnya memang sengaja dihentikan sementara selama ia berada di Tanah Suci.
Namun begitu pulang ke Indonesia, Mbah Painah sudah berencana kembali menyusuri kampung-kampung seperti biasa.
Kembali mengantar daun pesanan pelanggan. Kembali berjalan kaki. Kembali bekerja.
Bedanya, kini ia pulang dengan satu mimpi yang telah tuntas ditunaikan.
Sebuah mimpi yang dibeli bukan dengan kemewahan, melainkan dengan kesabaran, kerja keras, dan tabungan receh yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Mbah-Painah.jpg)