Krisis Libya

Pemberontak Libya Minta Dukungan NATO

Dewan Transisi Nasiona Libya, NTC, meminta agar NATO meneruskan dukungan militernya

zoom-inlihat foto Pemberontak Libya Minta Dukungan NATO
telegraph.co.uk/ap
Pasukan pemberontak terus melancarkan serangan ke kubu pemerintah Libya di Tripoli

TRIBUNNEWS.COM, DOHA – Dewan Transisi Nasiona Libya, NTC, meminta agar NATO meneruskan dukungan militernya, karena Kolonel Muammar Khadafi tetap merupakan ancaman di dalam maupun di luar Libya.

"Perlawanan Khadafi atas pasukan koalisi masih merupakan bahaya, tidak hanya untuk Libya tapi juga untuk dunia. Itulah sebabnya kami meminta agar koalisi meneruskan dukungannya," tutur Ketua NTC, Mustafa Abdel Jalil, seperti dikutip BBC.

Hal itu diungkapkan Mustafa Abdel Jalil dalam pertemuan para menteri pertahanan negara-negara yang terlibat di Libya yang digelar di Doha, Qatar. Sebanyak 15 negara -termasuk Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Italia- ikut serta dalam pertemuan tersebut.

Abdel Jalil juga memuji peran yang dimainkan NATO dalam membantu kelompok pemberontak. "Tanpa dukungan NATO, pemberontak tidak akan berada di mana saat ini mereka berada," tambahnya.

Hingga saat ini keberadaan Khadafi masih belum diketahui, dan kelompok pemberontak menyatakan bahwa kemenangan baru tercapai jika dia ditemukan, hidup atau mati.

Sementara itu Komandan Operasi Bersama NATO, Laksamana Samuel Locklear dari Amerika Serikat, berjanji akan meneruskan mandat hingga tanggal 27 September. "Kami yakin rezim Khadafi sudah hampir ambruk, dan kami berkomitmen untuk melihat operasi ini berlangsung sampai akhir," tuturnya seperti dikutip kantor berita Reuters.

Namun dia menambahkan bahwa masa depan di NATO di Libya masih belum pasti. "Mandat PBB adalah sampai tanggal 27 September dan peran NATO baru akan jelas ketika waktunya mendekat," tambahnya.

Hingga saat ini serangan udara NATO sudah menghancurkan sekitar 5.000 sasaran militer di Libya. Hari Minggu (28/08/2011) jurubicara NATO di Brussel mengatakan pesawat tempur NATO melancarkan serangan di Sirte, kota kelahiran Muammar Khadafi.

Koalisi internasional untuk Operasi Perlindungan Bersatu di Libya didasarkan pada mandat PBB yang membolehkan serangan udara untuk melindungi warga sipil, yang memulai perlawanan atas Khadafi sejak Februari tahun ini.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved