Perempuan Ini Menjelma Jadi Pemberontak Mematikan di Suriah
Sejak kedua orang anaknya tewas dalam bombardir serangan udara tentara Suriah, seorang ibu, bertekat membunuh setiap tentara Suriah
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Samuel Febriyanto
TRIBUNNEWS.COM, ALEPPO - Sejak kedua orang anaknya tewas dalam bombardir serangan udara angkatan bersenjata Suriah, seorang ibu, bertekat membunuh setiap tentara Suriah, yang menginjakkan kakinya di kota Aleppo.
Bermodalkan senjata api laras panjang, Guevara telah menjadi legenda dalam perang sipil berdarah Suriah, sebagai penembak jitu milisi pemberontak paling mematikan. Seperti dikutip dari Dailymail, Kamis (7/2/2013).
Mengenakan jilbab yang menutupi kepalanya, dan jaket jumper anti air, serta celana khaki berwarna hijau, mantan guru bahasa Inggris ini, menanti dengan sabar di balik reruntuhan bangunan yang diporak-porandakan dalam perang sipil Suriah, menunggu mangsanya, pasukan Pemerintah Suriah, melintas.
Meskipun mengangkat senjata bukanlah cara bagi seorang wanita berperilaku di negara Muslim konservatif, Guevara tidak terlalu perduli, yang ia ingin lakukan saat ini adalah memerangi rezim Presiden Suriah, Bashar al Assad, yang ia nilai telah menzalimi rakyatnya.
Dalam perjuangannya ia tidak sendiri, setidaknya terdapat 30 orang milisi pria dan wanita yang berjuang bersamanya. "Saya harus bertempur. Ketika saya melihat kawan saya di katiba (divisi pemberontak) dibunuh oleh tentara Pemerintah, saya merasa saya harus angkat senjata dan membalas dendam saya," ujarnya.
Wanita berusia 36 tahun itu mengaku, dirinya sangat membeci tentara Suriah, dan termotivasi membunuh mereka ketika setiap kali mendengar ada kawannya yang tewas terbunuh dalam serangan tentara Suriah.
Menjadi seorang penembak jitu, bebernya memerlukan keterampilan yang melibatkan kepintaran, kesabaran, dan kecepatan. Ia mengaku sering menunggu selama berjam-jam di satu tempat menunggu pasukan Suriah melintas.
"Ini membuat anda merasa lebih baik. Setiap kali saya mengenai target saya, saya berteriak 'ya!', "Katanya.
Berasal dari Palestina, Guevara mengaku pertama kali belajar menggunakan senjata di sebuah kamp pelatihan militer di Lebanon yang dikelola oleh kelompok Hamas Palestina.
Meskipun kini ia sudah terbiasa dengan kekejaman dan kerasnya medan perang, Guevara mengaku ia sering menangis ketika tengah malam, saat ia menginat wajah kedua anaknya, seorang gadis berusia 10 tahun, dan seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun. (dailymail)