Senin, 4 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Ini Kapal Pertama yang Melintas di Selat Hormuz, 800 Kapal Masih Terjebak di Teluk Persia

Sebagai catatan, masih ada lebih dari 800 kapal yang saat ini masih "terjebak" dan "terdampar" di Teluk Persia.

Tayang:
HO/IST/dok. Roland Berger
TERTUTUP UNTUK AS DAN ISRAEL - Iran menolak Selat Hormuz kembali ke status quo yang dinikmati sebelum pecah perang AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026. Selat Hormuz tertutup bagi AS dan sekutunya, tetapi kapal dari negara lain tetap dapat menggunakannya. 

Ini Dia Kapal Pertama yang Melintas di Selat Hormuz, Ada Harapan Buat 800 Kapal di Teluk Persia

TRIBUNNEWS.COM - Denyut nadi perekonomian dunia langsung terlihat saat Iran menyatakan pembukaan Selat Hormuz setelah kesepakatan gencatan senjata tercapai antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.

Data pelayaran dari situs web Marine Traffic menunjukkan kapal pertama melintasi Selat Hormuz.

Baca juga: Iran dan AS Setuju Proposal Penghentian Perang, Selat Hormuz Tetap Ditutup Saat Gencatan Senjata

"Hal ini terjadi beberapa jam setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kesepakatan gencatan senjata bersyarat selama dua minggu, di mana lalu lintas pelayaran akan diizinkan melewati Selat Hormuz," kata laporan Khbrn, Rabu (8/4/2026).

Berdasarkan data navigasi dari platform navigasi, kapal kargo curah "Dayton Beach" melintasi Selat Hormuz, setelah meninggalkan area tunggu pelabuhan Bandar Abbas di Iran.

Data menunjukkan kalau kapal yang memiliki nomor registrasi (9615054) dan mengibarkan bendera Liberia, akan menurunkan muatannya di pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA).

Setelah memeriksa catatan kapal, ditemukan kalau kapal tersebut dikelola oleh sebuah perusahaan yang berbasis di Yunani, dan pemeriksaan catatan pergerakan menunjukkan bahwa kapal tersebut telah "menganggur" sejak dimulainya perang Amerika-Israel di Iran sebelum pelayaran saat ini.

Data tersebut juga menunjukkan kalau kapal tersebut memasuki pelabuhan Sitra di Bahrain pada tanggal 19 Februari, sebelum menuju ke area tunggu pelabuhan Bandar Abbas di Iran, tempat kapal itu berlabuh sepanjang perang, sebelum melakukan penyeberangan saat ini.

Perkembangan ini terjadi beberapa minggu setelah Iran memberlakukan pembatasan ketat terhadap navigasi di Selat Hormuz, dalam konteks eskalasi militer dengan Amerika Serikat dan Israel, di mana Iran menghentikan atau mengurangi lalu lintas kapal komersial, dan memberlakukan lalu lintas selektif yang bergantung pada persetujuan keamanan, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran bahwa kapal tanker akan menjadi sasaran atau mengalami gangguan navigasi.

PENUTUPAN SELAT HORMUZ - Terdampak Penutupan Selat Hormuz, Ini Langkah Mitigasi Negara-negara ASEAN.
PENUTUPAN SELAT HORMUZ - Terdampak Penutupan Selat Hormuz, Ini Langkah Mitigasi Negara-negara ASEAN. (Istimewa)

Harapan Bagi 800 Kapal yang Terdampar di Teluk Persia

Bloomberg melaporkan kalau para perusahaan pemilik kapal tengah berupaya memahami detail perjanjian gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, yang dapat membuka kembali sementara Selat Hormuz yang vital.

Media tersebut mencatat dalam laporannya kalaupara pemilik kapal berusaha "membebaskan" kapal-kapal mereka untuk bisa melintas teluk tersebut.

Sebagai catatan, masih ada lebih dari 800 kapal yang saat ini masih "terjebak" dan "terdampar" di Teluk Persia.

Selat Hormuz praktis tertutup sejak serangan AS dan Israel pada akhir Februari, yang mendorong Iran untuk memperketat kendalinya atas selat tersebut, sehingga menyebabkan krisis pasokan energi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dengan keselamatan ribuan pelaut dan muatan mereka yang tidak terjamin, kapal-kapal tetap terdampar di kedua sisi selat, dan lalu lintas pengiriman melambat secara signifikan.

Beberapa jam sebelum batas waktu yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump pada Selasa malam, kedua pihak mencapai kesepakatan untuk gencatan senjata sebagai imbalan atas pembukaan kembali selat tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved