Dianggap Turun Pangkat, Dubes Pitono Purnomo Tidak Masalah

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia yang satu ini sangat unik. Dari pangkat

zoom-inlihat foto Dianggap Turun Pangkat, Dubes Pitono Purnomo Tidak Masalah
TRIBUNNEWS.COM/RICHARD SUSILO
Pitono Purnomo (59), yang baru dilantik sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Kerajaan Kamboja di Istana Negara, 24 Desember 2013.

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo

TRIBUNNEWS.COM -  Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia yang satu ini sangat unik. Dari pangkat Dirjen pengkajian dan pengembangan kebijakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mulai 24  Desember lalu dilantik resmi menjadi Duta Besar Indonesia bagi Kerajaan Kamboja.

Sekitar 5 tahun lalu, mulai 2004-2008, menjadi Konjen Indonesia di Osaka yang saat ini posisi tersebut sudah kosong belum ada penggantinya. Lalu 2008-2011 jadi Duta Besar Indonesia di Vietnam dan dapat Bintang Persahabatan Presiden Vietnam.

Logika dan opini orang awam, "Loh Turun pangkat nih dari Vietnam ke Kamboja" tidaklah berpengaruh bagi Pitono Purnomo (59) yang siap siap berangkat ke Kamboja tetapi masih menyempatkan waktunya ngobrol dengan Tribunnews.com di kantornya, Jumat (27/12/2013)

"Saya hanya menjalankan tugas negara. Yang penting bagaimana bisa mengabdi negara yang terbaik, menjembatani Indonesia dan Kamboja nantinya," tekannya, "Kalau bisa saya ingin menjembatani kedua negara  terutama bidang ekonomi," katanya lagi.

Dua kuil yaitu Angkor Wat dan Borobudur diharapkannya nanti bisa menjadi  sister kuil. Demikian pula sister city, Yogyakarta dan kota Angkor, di propinsi Siem Reap  bisa jadi kota kembar. Lalu diharapkan pula ada nantinya  penerbangan Yogyakarta - Jakarta - Phnom Penh.

"Tapi penerbangan tersebut mungkin masih agak sulit karena tingkat ekonomi mereka masih LDC (Low Developing Countries) dengan GDP (produk domestik kotor) hanya 946 dollar AS per 2012 (data Bank Dunia). Mungkin masih perlu banyak dibantu. Sedangkan  dari orang Indonesia yang mau ke sana mungkin masih memungkinkan," papar nya.

Di bidang ekonomi Pitono melihat kesempatan bisnis yang besar bagi pengusaha Indonesia untuk investasi di Kamboja lalu mengekspor produk ke Eropa karena tarif impor Uni Eropa nol persen, "Itu sebabnya banyak negara maju memanfaatkan Kamboja sebagai markas produksi dan mengekspor produknya ke Eropa. Produk yang banyak dilakukan di sana seperti produk tekstil dan turunannya, kaos kaki, sepatu, elektronik serta produk kehidupan dasar manusia. Jadi bagus pengusaha kita bikin pabrik di sana, bukan hanya untuk pemasaran di Kamboja, tetapi terutama untuk menembus pasar Eropa," tekannya lagi.

Perdagangan dengan luar negeri terbanyak dengan Thailand, Vietnam dan China. Sedangkan Investor terbesar asing di Kamboja dari China, lalu Korsel, Uni Eropa, Malaysia, AS, Vietnam, Singapura, Hongkong dan Jepang.

Kamboja sangat menghormati Indonesia dan berhutang budi karena berkat Indonesia perang sipil di dalam negaranya dapat berhenti, "Indonesia berhasil mendamaikan semua pihak di sana serta mempersatukannya kembali sehingga Kamboja bisa stabil seperti saat ini. Hal ini sangat dihargai sekali oleh PM Hun Sen saat ini. Sedangkan Vietnam membantu Kamboja menggulingkan Polpot."

Pitono hanya ingin yang realistis saja dalam menjembatani kedua negara ini karena cakupan negara ini memang masih LDC dan masih penuh keterbatasaan, "Saya belum bisa banyak bicara kali ini. Lain dengan Jepang yang dulu saya di sana sudah lengkap segalanya, bisa melakukan segala macam, sehingga saya bisa banyak bicara apa saja yang akan dilakukan. Tetapi keterbatasan kamboja, saya mesti hati-hati, mempelajari dulu apa yang bisa kita lakukan nantinya secara realistis," ungkap Dubes yang memiliki dua anak dan harus bertanggungjawab nantinya terhadap 722 warga Indonesia yang ada di Kamboja yang pendapatnya banyak dari pariwisata.

Tags
Kamboja
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved