Sabtu, 2 Mei 2026

PPN Naik Jadi 8 Persen, Warga Jepang Tumpah Ruah di Jalanan Borong Barang

Kenaikan PPN di Jepang pertama kali sejak 17 tahun lalu

Tayang:
JNN/Richard Susilo
Sato, manager pompa bensin di Tokyo mengomentari kenaikan jumlah konsumen dua kali lipat hari ini (30/3/2014) 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo di Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 5 persen menjadi 8 persen membuat kemacetan di tempat pembelian bensin di Jepang. Kenaikan PPN di Jepang pertama kali sejak 17 tahun lalu.

"Jumlah pembeli bensin hari ini banyak sekali, sedikitnya dua kali lipat lebih banyak dari pada hari biasanya. Mereka ingin mengisi penuh bensinnya untuk mengantisipasi kenaikan harga bensin mulai 1 April menjadi 162 yen yang saat ini 157 yen per liter bensin reguler," ujar Takashi Sato, manajer sebuah tempat penjualan bensin di Tokyo, Minggu(30/3/2014) sore.

Menurut Takashi diperkirakan besok akan lebih banyak lagi mobil yang datang membeli bensin di tempat pembelian bensin tersebut sebelum kenaikan PPN menjadi 8 persen.

Pembelian bensin di Jepang tidak boleh dilakukan oleh mobil biasa dengan memasukkan bensin ke tangki-tangki tambahan. Jadi pembelian bensin hanya boleh dengan cara memenuhkan tangki mobilnya sendiri. Hal ini merupakan pelanggaran Undang-undang yang ada di Jepang karena ditakutkan berisiko tinggi menimbun gasolin karena kebakaran akan datang dengan mudahnya.

Bukan hanya tempat pembelian bensin, berbagai toko pun hari ini dan besok diprediksi pasti ramai dikunjungi calon pembeli. Jalan raya di Jepang juga macet di berbagai tempat karena warga ke luar untuk memborong segala kebutuhan sehari-hari. Mulai tisu, popok bayi, makanan kalengan, beras, dan sebagainya dibeli lebih banyak daripada biasanya.

Toko persiapan perkawinan dengan penjualan baju kawin pun ramai didatangi banyak wanita muda. Mereka membeli pakaian menikahnya dari sekarang, padahal perkawinan belum dilakukan dalam masa dekat ini.

"Saya beli sekarang karena menang sudah diputuskan tahun ini akan menikah tapi belum tahu tanggal berapa. Lumayan mahal harga baju kawin jadi beli sekarang, kenaikan PPN menjadi 8 persen sangat berarti bagi saya," ujar seorang wanita muda, Kimura, kepada Tribunnews.com di sebuah toko pakaian wedding Mitsukoshi.

Wanita juga memborong tas brand mahal saat ini, misalnya buatan Prada, Louis Vitton, dan sebagainya, sebagai barang investasi mereka.

"Saya senang produk bagus tas ini, kalau tidak suka kan tinggal dijual lagi, harga jualnya juga akan tetap bagus, kalau barangnya bagus," kata seorang ibu.

Kesibukan pasar hari ini dan besok dipastikan akan sangat tinggi di seluruh Jepang sehingga dipastikan akan terlihat kenaikan data indeks konsumen signifikan pada laporan ekonomi pemerintah Jepang yang biasanya akan diumumkan di awal bulan mendatang.

Keramaian jual beli juga terjadi pada pasar jual beli mobil, termasuk pesanan atas mobil yang akan dikeluarkan Mei mendatang, hari ini dan besok dipastikan akan banyak uang muka diberikan oleh masyarakat di toko jual beli mobil.

Dengan memberikan uang muka sekarang, walaupun mobil diperoleh Mei mendatang, pembayaran lunas nanti tetap dengan angka saat ini, bukan dengan PPN 8 persen. Itulah sebabnya saat ini banyak yang membeli mobil di Jepang.

Kenaikan PPN ternyata bukan hanya soal pembelian barang tetapi juga jasa. Bahkan termasuk biaya buang sampah akan meningkat jadi mahal di Jepang. Buang sampah besar misalnya barang elektronik, lemari es, AC dan sebagainya, si pembuang sampah harus membayar pajak sampah.

Membeli label pajak sampah di toko konbini seperti Seven Eleven, lalu menempelkan label di barang yang dibuang tersebut. Apabila tidak dilakukan demikian, setelah diusut dan ketahuan pemiliknya, maka akan kena denda sangat besar. Biaya buang sampah beraneka ragam tergantung barang besar dan jenis barang yang dibuang. Biaya buang sampah (pelabelan)  bisa mencapai 10.000 yen atau bahkan lebih.

Tags
Jepang
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved