Buku My Cups Story Karya Kireinachan, Dari Hobi Cangkir Menjadi Refleksi Kehidupan
My Cups Story: Living a Life that I Love jadi sorotan di Jepang, kisah sederhana tentang cangkir yang penuh makna hidup
Ringkasan Berita:
- Buku My Cups Story: Living a Life that I Love karya Putu Diah Chandra Dewi menarik minat pembaca Jepang dengan konsep reflektif melalui simbol cangkir
- Mengusung cerita ringan penuh makna, buku ini mengajak pembaca memahami hidup, relaksasi, dan kebahagiaan dari hal sederhana
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Buku berjudul My Cups Story: Living a Life that I Love karya Kireinachan mulai menarik perhatian terutama oleh orang Jepang, sebagai karya inspiratif yang mengangkat kisah kehidupan melalui simbol sederhana, sebuah cangkir.
"Buku ini sederhana sebenarnya hanya mengenai cangkir, tapi tampaknya mulai dicari kalangan warga Jepang saat ini," papar sang penulis Kireinachan atau Notaris Putu Diah Chandra Dewi khusus kepada Tribunnews.com awal April 2026 lalu.
Buku full color terbitan 2018 tersebut dengan desain mewah yang diterbitkan oleh grup Jawa Pos ini menghadirkan pendekatan berbeda dalam dunia literasi, menggabungkan hobi, refleksi diri, dan nilai kehidupan dalam satu narasi yang mengalir seperti diary pribadi penulis.
Kireinachan, yang memiliki nama lengkap Putu Diah Chandra Dewi, memulai ketertarikannya pada dunia cangkir dari lingkungan keluarga, khususnya sang ibu.
Minat tersebut kemudian berkembang menjadi hobi serius setelah ia mendalami literatur dan bergabung dengan komunitas pecinta cangkir di Indonesia.
Baca juga: Fakta Biaya Pemulangan Jenazah dari Jepang, Bisa Tembus Rp300 Juta
Melalui buku ini, ia tidak sekadar menampilkan koleksi, tetapi juga menghadirkan cerita di balik setiap cangkir—mulai dari nilai estetika, sejarah, hingga makna emosional yang menyertainya.
Cerita Ringan, Makna Mendalam
Berbeda dengan buku motivasi pada umumnya, My Cups Story mengusung gaya storytelling ringan namun sarat makna.
Setiap bagian menggambarkan pengalaman sehari-hari yang tampak sederhana, tetapi menyimpan pelajaran hidup yang relevan bagi pembaca lintas generasi.
Buku ini dibagi ke dalam lima bab utama yang membahas berbagai aspek kehidupan, seperti keluarga, pengembangan diri, pergaulan sosial, hingga hal teknis terkait dunia koleksi cangkir dan keramik.
Di bagian akhir, pembaca disuguhkan parade foto koleksi cangkir yang artistik.
Lebih dari Sekadar Koleksi
Bagi Kireinachan, cangkir bukan sekadar benda. Ia menjadikannya sebagai simbol perjalanan hidup—tentang harapan, kebahagiaan, kehilangan, hingga proses pembelajaran diri.
“Bermain dengan cangkir adalah cara untuk memelankan ritme hidup dan menemukan kesadaran baru tentang relaksasi,” menjadi salah satu filosofi yang diangkat dalam buku ini.
Selain menginspirasi pembaca untuk mengoleksi cangkir, penulis juga mengajak setiap individu menemukan kesenangan masing-masing sebagai cara untuk menjalani hidup yang lebih bermakna.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BUKU22222.jpg)