Menperindag Gobel Lihat Budaya Jepang Tumpang Tindih dengan Islam
kspor untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan standar hidup yang lebih banyak, sehingga dapat menjadi solusi dari masalah kemiskinan.
Laporan Koresponden Tribunnews.com dari Tokyo, Richard Susilo
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Budaya dan adat istiadat Jepang sering tumpang tindih dengan ajaran Islam. Namun, tetap saling menghormati, bahkan saling mendukung satu sama lain. Itulah pemikiran Menteri Perdagangan Rachmat Gobel yang diwawancarai wartawan Mainichi, Sabtu (8/11/2014).
Gobel yang pernah hidup di Jepang dan lulusan sebuah universitas di Jepang itu mengatakan, “manufaktur didukung oleh sumber daya manusia dan perlu penghargaan satu sama lain. Banyak yang ingin tahu apa yang bisa diperoleh dengan bekerja di perusahaan Jepang, selain seminar yang diberikan. Bagi Indonesia, bukan hanya investasi saja dibutuhkan dari Jepang, tetapi juga semangat dan budaya bangsa Indonesia perlu dimengerti pula orang Jepang yang berinvestasi ke Indonesia.”
Selain itu Gobel juga mengakui bahwa masih ada orang-orang di Indonesia yang berpikir bahwa orang Jepang hanya menggunakan Indonesia sebagai pasar saja.
“Karena itu perlu bersama kita mengatasi dengan baik rasa ketidakpercayaan dan kesalahpahaman itu agar tersolusikan dengan baik pada akhirnya,” ujar Gobel.
Jepang diperbolehkan mengembangkan industri manufaktur dalam negeri, dan bagi Indonesia akan berusaha menstabilkan pasar domestik dengan meningkatkan ekspor.
Menarik investasi dari luar negeri sangat penting. Ekspor untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan standar hidup yang lebih banyak, sehingga dapat menjadi solusi dari masalah kemiskinan.
Dengan kemampuan petani di Indonesia, diharapkan dapat mengandalkan beras, daging sapi, gandum, serta diharapkan dapat mengekspor berbagai produk pertanian seperti jagung. Ironisnya petani terengah-engah dalam kemiskinan.
“Itulah sebabnya kita perlu meningkatkan tingkat swasembada pangan yang merupakan tujuan nasional, dan kami bekerja sama dengan kementerian lain juga akan melakukan berbagai hal," ujar Gobel.
Indonesia akan meningkatkan ekspornya menjadi 3 kali lipat dalam lima tahun mendatang. Pembangunan infrastruktur sangat penting sebagai prasyarat. Pembangkit listrik akan terus mengembangkan pelabuhan, bendungan, seperti fasilitas irigasi. Dalam rangka meningkatkan daya saing biaya, infrastruktur penting.
“Saya ingin menghilangkan peraturan yang menyulitkan dan undang-undang yang telah menjadi kegagalan pembangunan sejauh ini. Misalnya, perijinan pertambangan dan waktu validitas akan ditinjau ulang.
Untuk menyederhanakan peraturan yang kompleks itu kita perlu menyertakan beberapa kementerian, sehingga sejak persetujuan awal hingga penjualan menjadi lancar semua pada akhirnya, tekannya lagi.
Gobel juga ingin melanjutkan hubungan baik di masa lalu dengan berbagai perusahaan Jepang. Produktivitas Indonesia, dalam rangka meningkatkan ekspor dan perlunya teknologi Jepang.
Selain peralatan, pengembangan industri otomotif, dan diharapkan juga untuk sektor pertanian dan pangan dan teknologi ramah lingkungan dapat dikembangkan lebih baik lagi.
Larangan ekspor minerba seperti yang telah ditetapkan sebagai hukum, rasanya sulit untuk dilakukan peninjauan kembali, tekannya. Tujuan nasional untuk meningkatkan nilai tambah komoditas primer. Saat ini, ekspor rendah produk bernilai tambah.
“Apabila kembali diimpor dari luar negeri, itu merugikan Indonesia. Dengan mandat pengolahan dalam negeri, dan masuknya investasi asing sehubungan dengan peralatan pengolahan minerba, hal itu akan baik bagi Indonesia,” tekan Gobel lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/20141029_181500_rahmat-gobel-mendag-doorstop.jpg)