Dokter India Pakai Pompa Ban Sepeda untuk Operasi Pasien

Dalam foto itu, terlihat seorang dokter melakukan sterilisasi terhadap seorang pasien perempuan dengan menggunakan pompa ban sepeda.

The Hindustan Times
Foto paramedis menggunakan pompa sepeda untuk sterilisasi pasien menggemparkan India. Tindakan ini dinilai berbahaya bagi keselamatan pasien. 

TRIBUNNEWS.COM, NEW DELHI - Sebuah foto mengejutkan beredar di India. Dalam foto itu, terlihat seorang dokter melakukan sterilisasi terhadap seorang pasien perempuan dengan menggunakan pompa ban sepeda.

Para ahli bedah di sebuah pusat sterilisasi di desa Banarpal, negara bagian Odisha, diyakini menggunakan pompa sepeda itu untuk mengembungkan perut 56 orang perempuan agar lebih mudah melakukan operasi sterilisasi.

Foto mengejutkan itu muncul hanya dua pekan setelah 13 orang perempuan tewas setelah menjalani sterilisasi massal di negara bagian Chattisgarh yang bertetangga dengan Odisha.

Kembali ke foto sterilisasi dengan menggunakan pompa, pemerintah negara bagian Odisha mengakui cara tersebut memang digunakan dalam operasi sterilisasi itu. Demikian dikabarkan harian The Hindustan Times.

Harian itu menambahkan, dokter yang melakukan operasi, Mahesh Prasad Rout, mengatakan, penggunaan pompa sepeda untuk mengembungkan perut pasien biasa digunakan di kawasan terpencil India.

"Pompa sepeda sering digunakan dalam proses sterilisasi di banyak pedesaan yang kekurangan peralatan medis canggih untuk mengembungkan perut pasien," ujar Mahesh.

Setelah foto itu beredar, otoritas kesehatan setempat berjanji akan menyelidiki insiden itu dan akan mengabarkan hasil penyelidikan dalam waktu dekat.

Seharusnya, tim medis menggunakan peralatan kesehatan standar untuk mengembungkan perut pasien sebelum proses sterilisasi dilakukan. Dengan penggunakan peralatan standar, tekanan udara dalam perut pasien bisa diatur besarannya dan jauh lebih aman.

Meski Mahesh Prasad Rout, yang sudah melakukan 60.000 operasi tubektomi sepanjang kariernya, bersikukuh pompa itu sudah steril sebelum digunakan, potensi kesalahan manusia hingga tekanan udara yang berlebihan membuat cara ini sangat berbahaya.

Sumber: Kompas.com
  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved