Minggu, 19 April 2026

Pengalaman melahirkan perempuan di tujuh negara ditampilkan di Manchester

Di AS biaya kelahiran amat mahal, di Suriah perempuan melahirkan di pengungsian, dan Brasil ingin meredam 'wabah operasi Caesar'.

Sebuah festival teater tentang kelahiran digelar di Manchester, Inggris, menghadirkan kisah-kisah di balik kelahiran di tujuh negara.

Para penulis naskah drama dari masing-masing negara mengangkat beragam masalah tentang kelahiran, baik tentang aborsi maupun kurangnya fasilitas kesehatan.

Di Amerika Serikat, proses kelahiran secara alami memerlukan biaya rata-rata sebesar US$10.800 atau sekitar Rp140 juta.

Sementara di India, empat juta perempuan menjalani sterilisasi setiap tahunnya dan di Brasil pemerintah berupaya untuk meredam 'wabah operasi Caesar', yang mencapai tingkat 50% lebih di kalangan perempuan yang hamil.

Festival Kelahiran

Para penulis naskah yang hadir: Mumbi Kaigwa (Kenya), Swati Simha (India), dan Liwaa Yazji (Suriah).

Kisah sedih di negara yang tercabik-cabik perang, Suriah, adalah ribuan bayi yang lahir dari para ibu yang terpaksa mengungsi dari rumahnya.

Dan pada saat Anda membaca fakta di empat negara tersebut, ada sekitar 40 bayi lahir di seluruh dunia!

Sterilisasi dengan imbalan uang

Namun kualitas layanan kesehatan yang tidak sama dan tekanan budaya masing-masing tempat membuat situasi kelahiran bayi-bayi tersebut menjadi amat berbeda.

Perbedaan itulah yang diangkat oleh Festival Kelahiran yang digelar di Teater Royal Exchange di Manchester hingga Sabtu 22 Oktober, dengan mengundang penulis drama

Swati Simha, dari India, menyajikan cerita yang diinspirasi dari kunjungannya ke kampung pemukiman masyarakat suku Adivasi di negara bagian Jharkand.

Kelahiran

Layanan kesehatan untuk kelahiran amat berbeda-beda dan ada juga tekanan budaya.

Para perempuan Adivasi, menurutnya, mendapat tawaran uang jika bersedia disterilisasi karena pemerintah ingin menyingkirkan masyarakat suku tersebut.

"Pertanyaan utama dari kelahiran adalah kenapa menghabiskan demikian banyak untuk mensterilkan perempuan kalau bisa menggunakan uang tersebut untuk meningkatkan layanan kesehatan?."

"Saya kira mereka tidak ingin masyarakat suku tersebut mengendalikan hidup mereka sendiri," tegas Simha.

Melahirkan sebagai 'aksi pemberontakan'

Di Kenya, para perempuan yang menghadapi masalah kelahiran denganfistu la -yang bisa disebabkan karena luka saat operasi atau terkena infeksi- tidak selalu ditangani secara medis.

Kisah itu yang diangkat oleh Mumbi Kaigwa, "Banyak orang yang tidak tahu bahwa ada pengobatannya, dan karena situasi yang mereka hadapi serta ada informasi bahwa hal itu adalah kutukan, atau karena mereka perempuan atau karena kotor dan segala alasan seperti itu, maka mereka diusir."

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved