Sabtu, 9 Mei 2026

Mengapa praktik sunat perempuan masih berlangsung di Singapura?

Praktik sunat perempuan selama bertahun-tahun dijalankan oleh komunitas muslim Melayu di Singapura.

Tayang:

Namun, menurut Maznah, masyarakat masih takut dianggap melawan Islam jika mereka tidak menyunat anak perempuan mereka.

Filzah Sumartono, seorang aktivis yang berperan sebagai koordinator bagian hak kesetaraan gender di LSM Aware, menilai sunat perempuan bermakna mendalam bagi perempuan dan tubuhnya.

"Kita mulai berusaha mengendalikan tubuh perempuan sejak anak-anak. Itu adalah tanda bagi seorang anak bahwa tubuhnya bukan miliknya, tapi milik komunitas," kata Filzah.

"Seorang anak berusia dua pekan tidak tahu apa-apa. Bagaimana dia memberi persetujuan atau tidak?" timpal Zarifah.

sunat, perempuan

"Orang tua seharusnya bertanggung jawab atas keselamatan anak mereka, praktik sunat perempuan benar-benar bertolak belakang," kata Zarifah Anuar.

Menurut Zarifah, semua perempuan muslim Melayu di Singapura yang dia kenal telah menjalani sunat. Dan semuanya tidak tahu sampai mereka bertanya kepada orang tua masing-masing.

"Orang tua seharusnya bertanggung jawab atas keselamatan anak mereka, praktik ini benar-benar bertolak belakang. Ada bagian dalam diri saya yang menyesal telah bertanya karena sekarang saya tahu bahwa tubuh saya bukan punya saya," ujarnya.

Tapi tidak semua orang sepakat dengan sikap tersebut.

"Ada banyak hal yang dilakukan orang tua tanpa persetujuan anak mereka, karena cinta dan demi kebaikan si anak," kata Siti (bukan nama sebenarnya), seorang pembantu rumah tangga berusia 28 tahun.

"Orang tua mana yang sengaja mencelakai anak mereka sendiri?" tanya Siti, yang mengalami sunat sewaktu kanak-kanak.

Siti berargumen bahwa dia tidak akan tahu perbedaan jika dia tidak atau tetap menjalani praktik sunat. "Namun saya bisa merasakan apa yang perlu dirasakan. Itu tidak membuat keperempuanan saya berkurang."

Lepas dari perbedaan pendapat mengenai sunat perempuan, semua sepakat bahwa pemahaman akan praktik tersebut sangat diperlukan.

"MUIS harus menciptakan dialog mengenai topik ini untuk membantu memajukan komunitas dan melengkapi orang tua muda dengan pemahaman yang mereka perlukan demi membuat keputusan," kata Siti.

Soal dialog, Zarifah menggarisbawahi.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved