Cuitan Trump yang Menolak Rencana Pengganti Pesawat Air Force One
Maklum saja, Air Force One bukan sekedar Boeing 747 biasa karena telah dimodifikasi dengan sarana akomodasi, kantor, dan sistem komunikasi canggih.
TRIBUNNEWS.COM - Bukan Trump namanya kalau tidak membuat sensasi.
Tanpa penyebab yang jelas, tiba-tiba Presiden AS terpilih yang kontroversial itu kemarin mencuit lewat akun Twitternya mengenai penolakannya atas rencana AU AS untuk mengembangkan pesawat pengganti Air Force One.
Ia menyebutkan bahwa banderol harga pesawat pengganti VC-25 yang sudah bertugas lebih dari dua dekade tersebut akan lebih dari US$4 Miliar, yang dianggap kelewat mahal dan tidak terkendali.
Trump juga melanjutkan cuitannya dengan menuduh bahwa Boeing bermain-main dengan angka, dan Boeing seharusnya tidak mengambil terlalu banyak keuntungan.
Cuitan Trump segera mendapat reaksi resmi dari Gedung Putih, dimana kepala biro pers Gedung Putih Josh Earnest mengeluarkan pernyataan resmi bahwa “Angka yang disebutkan oleh Trump tersebut tidak mencerminkan sifat perjanjian finansial antara Boeing dan Departemen Pertahanan”.
Faktanya memang saat ini Boeing sudah menerima kontrak jangka panjang untuk mengembangkan Air Force One versi baru, setelah dua unit Boeing 747-200 yang dikonversi sebagai VC-25 memasuki batas akhir umur operasionalnya.
Tanpa upaya retrofit dan refurbishment, dua unit VC-25 tersebut seharusnya selesai bertugas pada 2017. Namun karena penggantinya diperkirakan baru siap pada 2022, maka sudah pasti ada upaya perpanjangan umur dari armada yang ada saat ini.
Kontrak tersebut rencananya digunakan untuk dana riset dan pengembangan, tujuannya adalah menentukan spesifikasi akhir Air Force One generasi baru.
Namun faktanya, nilai kontrak yang diungkap Trump ternyata hanya USD170 juta saja, dan bukan USD4 miliar.
Dalam jangka panjang pun, nilai kontrak diproyeksikan ‘hanya’ akan menghabiskan dana senilai US$ 2,8 Miliar, masih lebih rendah dari angka ajaib yang disebutkan oleh Trump.
Setelah tahap riset dan pengembangan, Pentagon berencana akan membagi beberapa fase untuk mengembangkan pengganti Air Force One.
Boeing sendiri akan menggunakan varian terbaru dari Boeing 747 yakni Boeing 747-800 sebagai basis pengembangan untuk Air Force One yang baru. Varian terbaru dari keluarga 747 ini jelas lebih unggul segalanya dibandingkan 747-200.
Jarak terbangnya mencapai 7.730 mil, seribu mil lebih jauh dibandingkan dengan seri 200. MTOW (Maximum Take Off Weight) mencapai 987.000 pon, atau nyaris 70 ton lebih tinggi dibandingkan dengan pendahulunya.
Dengan dimensi yang lebih panjang dibanding seri 200, 747-800 jelas bisa menyediakan lebih banyak ruang, suatu hal krusial karena Air Force One harus bisa menjadi kantor terbang bagi Presiden AS dan staf-stafnya.
Para pengamat penerbangan pun ramai-ramai membela ongkos pengadaan Air Force One yang terhitung sangat mahal tersebut.