Para korban kekerasan seksual di Australia mendapat bayaran Rp2,8 triliun
Gereja Katolik Australia sudah membayar A$276 juta atau sekitar Rp2,8 triliun kepada para korban kekerasan seksual sejak tahun 1980, seperti terungkap dalam penyelidikan.
Beberapa korban kekerasan seksual Gereja Katolik Australia datang ke Roma, Italia, pada tahun 2016 lalu, saat Kardinal George Pell memberi keterangan.
Gereja Katolik Australia sudah membayar A$276 juta atau sekitar Rp2,8 triliun kepada para korban kekerasan seksual sejak tahun 1980, seperti terungkap dalam penyelidikan.
Sebuah komisi yang menangani masalah kekerasan seksual yang terlembaga mendapat keterangan bahwa uang tersebut dibagi untuk ribuan korban.
Data, yang diungkapkan Kamis (16/02), memperlihatkan setiap korban rata-rata mendapat A$91.000 (setara Rp933 juta).
- Hampir 4.500 orang klaim jadi korban pelecehan seks pastor Katolik di Australia
- Slogan seksis di mobil karavan jadi sasaran hukum di Australia
- Sepasang remaja Australia didakwa pasal perencanaan teror
Komisi yang dibentuk tahun 2013 lalu itu juga menyelidiki kekerasan seksual di lembaga-lembaga nonagama.
Gereja Katolik melakukan pembayaran untuk menanggapi laporan kekerasan seksual yang menimpa 3.066 hingga 4.445 anak-anak antara tahun 1980 dan 2015.
Penyelidikan menemukan bahwa lebih dari 40% kasus dilakukan oleh sekelompok kecil pastor pria.
Pembayaran yang diberikan mencakup ganti rugi, pengobatan, proses hukum dan biaya lainnya, seperti dijelaskan oleh Gail Furness, penasehat hukum yang membantu komisi.
Pastor paling senior di Australia, Kardinal George Pell, memberikan keterangan tahun lalu.
"Pengalaman komisi adalah banyak korban menghadapi halangan yang mencegah mereka melaporkan kekerasan kepada pihak berwenang dan lembaga tempat terjadinya kekerasan itu," kata Furness.
"Sejalan dengan itu, jumlah total dari insiden kekerasan seksual di lembaga-lembaga Gereja Katolik di Australia kemungkinan lebih besar dari tuntutan yang diajukan."
Furness menambahkan rata-rata penundaan antara kekerasan seksual dengan pelaporannya mencapai 33 tahun.
Awal bulan ini, komisi mendengar keterangan bahwa 7% pendeta Katolik di Austra;ia dituduh melakukan kekerasan seksual atas anak-anak sepanjang 1950-2010.
Menanggapi temuan penyelidikan ini, salah seorang korban, Andrew Collins, mengatakan kepada BBC bahwa 'dentaman terus terderngar di telinganya' dari keempat pria yang melakukan kekerasan seksual atasnya -dua orang guru, seorang pendeta, dan seorang umat Katolik- bahwa dialah yang melakukan 'hal buruk'.
"Saya pernah sekali berupaya mengatakan kepada ibu saya, namun dia mengatakan sepenuhnya sampah dan pria Tuhan tidak akan pernah melakukan hal tersebut.
Collins menderita kekerasan seksual sejak usia tujuh hingga 14 tahun.