Rabu, 15 April 2026

Master Arsitek Jepang Kengo Kuma Akui Arsitek Muda Indonesia Pintar-pintar

Sebuah proyek museum seni di Pandawa Bukit Bali juga dilakukannya demikian dengan langsung terjun ke lokasi.

Editor: Johnson Simanjuntak
Richard Susilo
Master arsitek dunia dari Jepang Kengo Kuma (lelaki terkiri) bersama pimpinan dan staf sekolah Jepang Pandan College di Bali 17 Juni 2017 serta Konjen Jepang di Bali, Hirohisa Chiba (lelaki terkanan). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Master arsitek dari Jepang Kengo Kuma yang baru saja menjadi pembicara dalam seminarnya 17 Juni lalu di Bali, mengakui para arsitek muda Indonesia pintar-pintar.

"Di kantor saya ada pemagang para arsitek dari sekitar 40 negara di dunia termasuk dari Indonesia. Mereka pintar-pintar semua saya suka," paparnya kepada Tribunnews.com minggu lalu.

Salah satu yang bekerja membantu Kuma di kantornya dari adalah wanita dari Indonesia dan kini sudah kembali ke Indonesia.

Kerja keras para arsitek Indonesia dari yang muda dilihatnya sebagai bibit unggul yang perlu dipupuk lebih lanjut sehingga nantinya bisa menjadi arsitek dunia pula.

"Tidak mudah memang menjadi arsitek yang besar dan mungkin perlu banyak pengorbanan," tambahnya.

Upayanya mengerjakan berbagai proyek besarnya di berbagai negara dengan pembentukan tim arsitek dari negara yang bersangkutan selain dirinya yang terjun ke lapanmgan saat merencanakan desain agar lebih smooth nantinya berkat data dan bantuan arsitek lokal setempat.

Sebuah proyek museum seni di Pandawa Bukit Bali juga dilakukannya demikian dengan langsung terjun ke lokasi.

Karya Kuma umumnya banyak menggunakan kayu dan kayu juga akan diambilnya dari Bali dari lokal daerah setempat kalau bisa.

"Sedangkan petugas kayu khusus mungkin akan didatangkan dari Jepang karena ini perlu keahlian khusus untuk menrancang dan memadukan antar kayu satu dengan kayu lain sehingga menjadi bentuk seni yang cantik nantinya. Prakarya itulah dikuasai para ahli kayu Jepang saat ini, terbaik di dunia."

Desain banyak kayu dan akrab lingkungan penuh hijau-hijau juga jadi pokok dasar pembuatan desainnya untuk stadiun olahraga nasional Jepang bagi pembukaan Olimpiade 2020 mendatang di Tokyo yang didesainnya saat ini.

"Tahun 2019 akhir mudah-mjudahan sudah harus jadi karena sudah akan digunakan untuk kegiatan dunia olahraga lainnya di Jepang sebelum Olimpiade dilakukan tahun 2020."

Keseimbangan antara manusia dunia dan alam tampaknya menjadi konsep desain arsitekturnya sehingga karyanya yang ada di Perancis berada di antara laut dan daratan seholah menjadi jembatan antara dunia (laut dan manusia).

Demikian pula di Spanyol buah delima menjadi dasar konsep utamanya mendesain sebuah gedung di sana dengan modal mirip buah delima.

"Demikian pula konsep lingkungan rumah Bali yang juga memiliki pura di setiap rumah mirip Shinto di Jepang yang punya kuil kecil di setiap lokasi bangunannya. Ini menarik sekali untuk dijadikan sebuah desain arsitek tertentu yang bisa memadukan antara budaya Jepang dan Indonesia pada akhirnya."

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved