Minggu, 7 Juni 2026

Kerja di Maid Cafe Jepang, Gadis Cantik Indonesia Ini Dimonitor Ketat Senseinya

Citranya bermacam-macam, seolah terkait dengan seks, dengan toko warna pink tercitra asmara wanita

Tayang:
Editor: Johnson Simanjuntak
Richard Susilo
Ajeng Cornelvein Teiwilang (24) dengan pakaian "maid", gadis yang berasal dari Serpong Tangerang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Begitu dengar nama Maid Cafe mungkin orang Jepang matanya agak terbelalak besar.

Citranya bermacam-macam, seolah terkait dengan seks, dengan toko warna pink tercitra asmara wanita, dan lelaki sebagai master (tuan) sementara pelayannya menggunakan pakaian pembantu (maid) seperti jaman raja-raja di Inggris.

"Kaget juga sih sensei (guru) saya ketika diberitahu kerja di Maid Cafe. Jadi dia akan monitor saya terus tampaknya sampai sejauh mana kegiatan saya kerja di Maid Cafe. Bagi saya sih yang lurus-lurus saja, cuma cafe biasa melayani orang minum dan ngobrol saja kok, tidak macam-macam dan memang saya tak mau macam-macam," papar Ajeng Cornelvein Teiwilang (24) khusus kepada Tribunnews.com sore ini (30/6/2017).

Di tempatnya kerja memang banyak orang asing yang bekerja di sama sama seperti Ajeng misalnya dari Taiwan, dari Perancis, dari Brazil, dari Italia dan sebagainya.

"Suasananya juga terang kok di sini bukan remang-remang seperti night club. Kalau di tempat gituan sih jelas saya tak mau kerja dan memang dilarang oleh sekolah pula," tambahnya lagi.

Tribunnews.com yang mewawancarai Ajeng di tempatnya hanya minum satu gelas Coca Cola dan membayar 1500 yen plus pajak 300 yen, sehingga kembali uang 2000 yen adalah 200 yen. Bagaimana perhitungannya tidak tahulah. Tapi itulah memang karakter Maid Cafe yang untuk bersantai dengan bayaran bukan murah.

Dari situ Ajeng bekerja dengan honor 1000 yen per jam dan kalau saat masa training hanya 950 yen per jam.

"Di tempat ini umumnya hanya Jumat dan Sabtu atau hari libur saja kok karena sampai malam bisa sampai jam 23.00. Jadi kalau pulang ya sudah capek tinggal tidur. Kalau hari biasa besoknya repot juga karena harus sekolah kan," ungkapnya yang mulai kerja biasanya sejak jam 17:00 waktu Jepang.

Terus orangtuamu bagaimana melihat fotomu pakai baju renda-renda "maid" ini?

"Ya biasa saja aku ceritakan ya pakaiannya harus begini seperti pembantu, ini kafe biasa kok hanya temani orang ngobrol dan sajikan minuman, jadi mereka mengertilah semua tak masalah dan percaya Ajeng sudah dewasa bisa jaga diri kok," paparnya.

Dalam pengalamannya selama bekerja sekitar dua minggu terakhir ini, Ajeng pernah dapat tamu (warga Jepang) yang mem bookingnya ngobrol sampai tiga jam.

"Dia ngobrol ngalor ngidul semuanya mengenai memancing karena dia suka memancing. Lalu Ajeng ceritakan ikan-ikan yang ada di Indonesia. Kadang kesulitan komunikasi jadi Ajeng pakai HP cari di Googloe, tunjukkan gambar ikan seperti begini begitu, barulah nyambung," katanya lagi sambil ketawa.

Tamu-tamu baik semua kok, suka ngobrol di sini dan kalau tamu banyak minum alkohol seperti tamu 3 jam itu lumayan juga menghabiskan biaya dia lebih dari 10.000 yen di sini dan tentu honor saya juga besar jadinya."

Diakuinya tak ada pembicaraan pribadi dengan tamu, dan kalau pun ada Ajeng mengakui langsung mengalihkan ke persoalan lain.

Apakah tak ada yang ngajak ke luar dan sebagainya?

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved