Krisis, Semakin Banyak Penipuan Menjatuhkan Citra Yakuza Jepang

"Saat ini semakin banyak penipuan (sagi) dilakukan anak muda Yakuza dan ini jelas semakin menjatuhkan citra yakuza

Krisis, Semakin Banyak Penipuan Menjatuhkan Citra Yakuza Jepang
Richard Susilo
Mantan pimpinan Yakuza afiliasi Yamaguchigumi, Sugawara Ushio, 57, bos Watanabe gumi dan salah satu pimpinan Sato gumi 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Anak muda yang tergabung ke dalam kelompok mafia Jepang (yakuza) kini jauh meninggalkan semangat kesatria Jepang (Bushido) sehingga jadi manusia seperti kriminal umum dengan semakin banyak melakukan penipuan kepada warga biasa, yang akhirnya menjadikan krisis identitas di dalam yakuza sendiri.

"Saat ini semakin banyak penipuan (sagi) dilakukan anak muda Yakuza dan ini jelas semakin menjatuhkan citra yakuza di mata masyarakat, sekaligus menjadi satu krisis identitas di dalam kelompok yakuza saat ini," papar pimpinan Yakuza afiliasi Yamaguchigumi, Sugawara Ushio, 57, bos Watanabe gumi dan salah satu pimpinan Sato gumi, biasa disebut Neko Kumicho, khusus kepada Tribunnews.com sore ini Kamis (10/8/2017).

Menurutnya, karakter Yakuza seharusnya bukan demikian. Yakuza justru tidak menyusahkan warga masyarakat umum. Namun sekarang justru jadi kelompok penjahat seperti kalangan penjahat biasa juga, mencuri, menipu, merampok.

"Ini sudah berubah, sudah krisis yakuza saat ini karena para anak muda itu tidak terdidik dengan baik oleh para pimpinanya. Sementara pimpinannya juga sangat sibuk dengan diri sendiri dan memang membutuhkan terus setoran dari bawahan. Kalau berjalan terus seperti itu, tidak ada bedanya dong dengan maling biasa," lanjutnya.

Jadi semangat kesatria yang seharusnya kental dijaga di dalam diri Yakuza saat ini praktis menipis terutama di kalangan generasi mudanya.

"Yakuza harus kembali ke alam mulanya, sebagai bushido, sehingga dihormati masyarakat. Bukan dengan menipu yang semakin banyak terjadi saat ini dengan korban malah para orangtua. Itu kan malahan menyusahkan rakyat, tidak benar itu," tekannya lebih lanjut.

"Yakuza seharusnya punya rasa gengsi yang tinggi, hanya melakukan aktivitas yang tidak merugikan masyarakat umum satu per satu, apalagi kalangan orangtua. Tapi beberapa kalangan menengah di yakuza tidak percaya lagi akan hal ini, berbeda pandangan, di samping juga tertekan oleh peraturan UU Anti Yakuza yang semakin ketat memang saat ini. Jadi ya agak susah juga sebenarnya posisi yakuza saat ini."

Pengaturan dan kontrol yang semakin jauh semakin ketat, semakin menyusahkan yakuza sebenarnya juga membuat para kelompok terpecah-pecah dan kontrol internal yakuza semakin susah.

"Ini justru bahaya kalau sudah mulai sulit terkontrol dari internal yakuza karena justru akan merugikan masyarakat, dan bagi polisi juga sebenarnya juga jadi sulit koordinasi lebih lanjut. Tapi kalau terkontrol dengan baik, pihak polisi tinggal pegang bosnya dan mudah pula mengontrol serta menjaga keamanan ketertiban serta ketenangan di masyarakat."

Dalam keadaan serba kepepet saat ini, yakuza tetap melakukan benkyokai atau study grup, bertemu dua kali sebulan untuk belajar mengenai antisipasi UU Anti Yakuza yang baru saat ini agar tidak terperangkap ke dalamnya.

"Apabila kalangan yakuza sendiri belajar terus dan bawahan juga belajar, semakin pintar, saya yakin dalam lima tahun mendatang karakter yakuza akan berubah lagi kembali bangkit seperti jaman awal mulanya," papar Neko Kumicho lagi.

Akibat agak berantakan kini yakuza Jepang, pengetatan luar biasa, sulit bergerak, anak muda Jepang kini mulai sungkan, enggan untuk jadi anggota yakuza karena dianggap tidak menguntungkan mereka, tak ada daya tariknya.

"Ini pula yang menjadikan kualitas yakuza mungkin menurun, citra juga menurun, selain tidak adanya pendidikan dari pimpinannya masing-masing. Tapi kalau mereka mau belajar saja dengan lebih baik, kembali ke alam akarnya semula, saya yakin yakuza akan bangkit kembali dengan megah dan jadi kebanggaan banyak anak muda lagi nantinya."

Info lengkap yakuza dapat dibaca di www.yakuza.in

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved