Kamis, 30 April 2026

Dilarang aborsi, bocah 10 tahun korban perkosaan, lahirkan bayi

Seorang bocah perempuan India berusia 10 tahun hamil akibat diperkosan dan dilarang melakukan aborsi oleh Mahkamah Agung, telah melahirkan seorang

Tayang:

Namun belakangan, pengadilan telah menerima beberapa petisi, banyak dari penyintas pemerkosaan anak, yang ingin mengaborsi kehamilan di atas 20 minggu. Di banyak kasus, kehamilan-kehamilan ini terlambat diketahui karena anak-anak itu tidak menyadari kondisi mereka.

anak korban pemerkosaan
Getty Images
Di India, seorang anak di bawah usia 16 tahun diperkosa setiap 155 menit, dan anak di bawa 10 tahun setiap 13 jam.

Dalam kasus anak 10 tahun ini juga, kehamilan baru disadari tiga minggu lalu saat dia mengeluh sakit di perut bagian bawahnya dan ibunya membawanya ke dokter.

Seseorang yang kerap berinteraksi dengan anak perempuan itu mengatakan: "Dia sangat lugu dan tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya."

Orang tuanya juga tidak menyadari tanda-tanda kehamilan, mungkin karena dia "anak yang sehat dan cukup gemuk". Selain itu, mereka tidak dapat membayangkan bahkan di mimpi terburuk mereka bahwa anak perempuan mereka akan hamil di usia 10 tahun.

Anak itu belum diberitahu mengenai kehamilannya, dan yang harus berurusan dengannya, berbicara dengannya seperti menginjak cangkang telur. Dia diberitahukan bahwa ada batu besar di perutnya dan tonjolan itu ada karena itu.

Dia sedang diet khusus yang terdiri atas telur, susu, buah-buahan, ikan dan ayam dan dia sepertinya menikmati semua perhatian ekstra.

Namun belakangan, polisi, pekerja sosial dan konselor keluar masuk rumahnya, dan sebuah sirkus media berada di luar rumahnya.

"Dia mungkin tidak mengerti masalah sebenarnya, dalamnya situasi yang ada, namun saya kira dia punya gambaran saat ini," kata seorang pejabat senior ke BBC.

Orang tuanya berjuang menghadapi situasi yang ada. Keluarganya miskin dan tinggal di sebuah flat satu kamar yang sesak. Ayahnya bekerja sebagai pegawai pemerintah dan ibunya pembantu rumah tangga.

Polwan Pratibha Kumari, yang menyelidiki kasus ini, mendeskripsikan mereka sebagai "keluarga yang sangat baik, yang sangat sederhana sehingga tidak menyadari apa yang dilakukan pria ini ke anak perempuan mereka".

Orangtuanya, kata Kumari, sangat putus asa. "Ibunya tidak pernah berbicara dengan saya tanpa menangis. Ayahnya berkata bahwa dia merasa anaknya dibunuh."

Apa yang membuat situasi mereka lebih buruk adalah, sejak berita pemerkosaan dan kehamilan menjadi tajuk berita, mereka diburu oleh para jurnalis.

"Saat ayah sang anak datang ke saya, dia berkata bahwa masalah terbesarnya adalah pers. Dia berkata banyak wartawan di luar rumahnya setiap saat dan privasinya dilanggar," kata Neil Roberts, ketua Komite Kesejahteraan Anak kepada BBC.

Perhatian media membuat anak itu akan mendapat perawatan medis terbaik dan berhak mengklaim kompensasi uang dari pemerintah.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved