Breaking News:

Penemuan Peneliti Jepang Yu Yanagisawa, Kaca Pecah Bisa Tersambung Otomatis

Penemuan pertama di dunia, gelas yang sudah pecah dapat disambung kembali. Penemuan ini ke diumumkan pada jurnal scientific Amerika Serikat.

Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Yu Yanagisawa (33), peneliti Universitas Tokyo dan eksekutif CellFiber Co.Ltd kelahiran Shizuoka. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Penemuan pertama di dunia, gelas yang sudah pecah dapat disambung kembali. Penemuan ini kemudian diumumkan pada jurnal scientific Amerika Serikat 15 Desember 2017 lalu.

Dialah Yu Yanagisawa dengan Takuzo Aida, Y. Nan dan K. Okuro.

"Memang penemuan pertama di dunia, tapi masih perlu pengembangan dan penelitian lebih lanjut," kata sang penemu, Yanagisawa kepada Tribunnews.com, Jumat (22/12/2017).

Menurutnya, pada awal penelitian sebenarnya hanya tertarik kepada zat polyether thiourea yang digunakan karena lengket seperti muncul serat kalau dipisahkan.

Baca: Misteri Kematian Aiptu Made Suanda Terkuak, Dia Dibunuh Tiga Orang, Satu di Antaranya Perempuan

"Pengembangan lebih lanjut jadi sebuah kaca organik, berbeda dengan gelas anorganik biasa yang terutama tersusun dari silikon dioksida. Namun secara akademis karena disebut gelas atau kaca karena zat tersebut bukan kristal yang dipesan seperti molekul. Ini adalah kaca buatan dari semacam bahan polimer,” tambahnya.

Dalam percobaan, resin transparan dengan panjang 1 cm, lebar 2 cm, ketebalan 2 mm dipotong menjadi dua bagian dengan gunting.

Masing-masing terjepit di antara pinset, dan bagian-bagiannya ditekan bersamaan pada suhu kamar 21 derajat selama 30 detik.

Segera setelah itu, meski berat 300 gram digantungkan di satu sisi, bagian yang satu lagi direkatkan kembali dan tidak terlepas, dan setelah beberapa jam kekuatannya ternyata pulih kembali.

Baca: Ceceng Selamat Setelah Berenang Sejauh 50 Meter Tapi Nyawa Dadang Tak Tertolong

Sebagai hasil percobaan berulang dengan zat dengan struktur molekul yang sedikit berbeda, ditemukan bahwa, agar permukaan yang dipotong saling menempel lagi, rantai polimer relatif pendek dan mudah dipindahkan, dan ikatan hidrogen yang menghubungkan rantai ternyata jadi mudah dipulihkan.

"Kondisi yang terpenting penemuan ini sebenarnya suhu ruangan tempat benda itu berada dan paling bisa sekitar 25 derajat Celcius," ungkapnya.

"Kalau dingin tak akan berfungsi dan kalau panas sekali seperti di padang gurun ya jadi “loyo” zat tersebut, yang artinya sulit bersambung dengan baik," kata dia.

"Masih banyak kekurangan penemuan ini sebenarnya. Mungkin bisa saya katakan baru 5 persen dari 100 persen yang harus dicapai nantinya guna penyempurnaan lebih lanjut," ungkapnya.

Setidaknya sudah ditemukan semacam kaca organik yang bila pecah atau dipatahkan, bisa menyambung lagi kembali seperti sedia kala.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved