Kamis, 28 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Para Negosiator Tiba di Iran Demi Perdamaian, Teheran Bersikukuh Soal Tuntutannya

Para negosiator yang terdiri dari panglima militer Pakistan dan tim Qatar tiba di Iran pada Jumat (22/5/2026). Namun, Iran bersikukuh pada tuntutan.

Tayang:
Penulis: Whiesa Daniswara

Ringkasan Berita:
  • Para negosiator dari Pakistan dan Qatar telah tiba di Ibu Kota Iran, Teheran pada Jumat (22/5/2026).
  • Kedatangan kedua negara tersebut di Teheran memiliki misi berat, yakni mempertahankan kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
  • Namun, Iran tetap bersikukuh dengan tuntutannya yang terdiri dari tiga poin, yakni pencabutan sanksi ekonomi total, pelepasan aset negara yang disita, dan penghentian blokade di Selat Hormuz.

TRIBUNNEWS.COM - Panglima Militer Pakistan, Field Marshal Asim Munir dan tim negosiator dari Qatar telah tiba di Teheran, Iran, pada Jumat (22/5/2026).

Kedatangan mereka memiliki misi yang berat, yakni mempertahankan kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Laporan yang dirilis oleh Axios, kehadiran Munir di Ibu Kota Iran menjadi tumpuan utama setelah Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras.

Trump menegaskan situasi saat ini berada di garis batas yang sangat tipis, apakah dunia akan melihat perang total atau justru lahirnya kesepakatan damai yang historis.

Pakistan bertindak sebagai mediator utama, mengingat kedekatan geopolitiknya dengan Iran sekaligus kemitraan strategisnya dengan Washington.

Di bawah draf kesepakatan damai, baik AS maupun Iran diproyeksikan menyepakati kerangka kerja awal guna menghentikan permusuhan.

Jika surat tersebut ditandatangani, kesepakatan ini akan membuka periode negosiasi intensif selama satu bulan penuh.

Fase krusial ini dirancang untuk membahas penyelesaian akar konflik secara komprehensif, mulai dari pembatasan ketat program nuklir Iran hingga pemulihan keamanan jalur maritim global.

Sementara itu, kehadiran Qatar di Iran menandai kembalinya sekutu utama non-NATO AS tersebut ke panggung diplomasi regional.

Sebelumnya, Doha sempat menarik diri dan menjaga jarak dari posisi mediator dalam konflik Iran-AS.

Sikap tersebut diambil setelah infrastruktur sipil dan fasilitas gas alam cair mereka di Ras Laffan hancur akibat serangan rudal dan drone Iran, yang memangkas sekitar 17 persen kapasitas ekspor LNG Qatar.

Baca juga: Usai Pernyataan Trump Langit Iran Sunyi, Navigasi Teluk Arab Terganggu: Picu Kecemasan Perang Baru

Selama masa vakumnya Qatar, Pakistan bertindak sebagai mediator utama antar kedua belah pihak dan sempat memfasilitasi dialog pada pertengahan April lalu.

Meskipun sempat menjadi korban dampak perang, keterlibatan kembali Qatar dipandang strategis mengingat posisi historisnya yang kuat sebagai saluran komunikasi belakang yang andal bagi Washington dan Teheran.

"Tim negosiasi Qatar berada di Teheran pada hari Jumat untuk membantu mencapai kesepakatan akhir yang akan mengakhiri perang serta mengatasi masalah-masalah dengan Iran," kata seorang sumber kepada Reuters.

Tuntutan Iran

Pemerintah Iran menegaskan posisi politiknya bahwa mereka sama sekali tidak berniat mencari atau meminta "kemurahan hati" berupa konsesi politik dari Washington.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved