Jumat, 24 April 2026

Cina dan India bersengketa soal sungai, banjir dahsyat pun menerjang

Sebelumnya Cina selalu berbagi data tentang sungai Brahmaputra yang berhulu di Cina, lalu berhenti dengan alasan stasiun hidrologi mereka diperbaiki.

Pihak berwenang Cina mengatakan pada bulan September, bahwa mereka tidak bisa membagikan data saat itu, karena stasiun hidrologi mereka, yang mencatat data, sedang diperbaiki. Itu adalah pernyataan terakhir yang mereka keluarkan mengenai masalah ini.

Namun BBC mendapati Cina masih membagikan data tentang sungai tersebut dengan Bangladesh, negara yang berada di bagian hilir terendah di lembah Brahmaputra.

Badak India bercula satu
Getty Images
Taman nasional Kaziranga, rumah bagi badak bercula satu India, sering dilanda banjir.

Anisul Islam Mohammad, menteri sumber daya air Bangladesh, mengatakan kepada BBC pada bulan September bahwa negaranya menerima data hidrologi dari Cina.

Namun pihak berwenang Cina tidak menanggapi permintaan BBC saat ditanyai komentar tentang data sungai yang terbaru. Masih belum jelas apakah dan kapan mereka akan kembali membagikan data kepada India.

Warga setempat mengatakan kepada BBC bahwa banjir sudah sangat memporak-porandakan bahkan pada saat Cina masih membagikan informasi. Mereka khawatir keadaan akan jauh lebih buruk jika otoritas India tidak memiliki akses terhadap data yang bisa membantu mereka bersiap menghadapi banjir.

"Cina tidak pernah terbuka tentang apa yang dilakukan di hulu sungai Brahmaputra," kata Ashok Singhal, anggota dewan legislatif Assam, yang juga memimpin kampanye "Selamatkan Brahmaputra".

"Saya sudah berkali-kali meminta izin untuk mengunjungi hulu sungai di Tibet, tapi saya belum diijinkan datang (oleh Cina)."

Penduduk desa di Assam
Getty Images
Banjir di Assam telah menewaskan 34 orang pada tahun 2016.

Pemerintah Cina membangun beberapa bendungan untuk pembangkit listrik tenaga air di Brahmaputra, yang di Tibet dikenal sebagai Yarlung Zangbo.

Namun Cina bersikeras bahwa bendungan itu tidak mengubah atau mengalihkan air, dan tidak akan melakukan apa pun yang bertentangan dengan kepentingan negara-negara hilir, seperti India atau Bangladesh.

Namun, pihak berwenang di Assam mengatakan bahwa mereka melihat tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Banjir, menurut mereka, menjadi lebih sering terjadi sejak bulan Mei ketika Cina berhenti memberikan data sungai.

"Dulu kami mengalami satu atau dua kali banjir selama musim hujan, tapi kali ini kami bahkan bisa dilanda banjir tiga hingga empat kali tanpa curah hujan di bagian hulu sungai," Himanta Sarma, menteri keuangan dan kesehatan di negara bagian Assam, mengatakan kepada BBC

"Semua ini tampaknya dilatar belakangi konflik Doklam," tambahnya. Ia merujuk pada kebuntuan diplomasi tentang perbatasan antara Cina dan India awal tahun ini.

Para ilmuwan di Assam mengatakan India tidak berbuat banyak untuk mengatasi masalah tersebut - seperti mendirikan stasiun hidrologi sendiri di wilayah perbatasan internasional (antara Cina dan India) untuk memantau sungai tersebut.

"Tidak ada diskusi antara ilmuwan, politisi dan birokrat," kata Profesor BP Bohara, seorang ahli geologi di Universitas Guwahati.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved