Minggu, 19 April 2026

Pengungsi Ahmadiyah: Diculik dan dapat suaka di Inggris, diusir dari desa dan mengungsi di Indonesia

Seorang penganut Ahmadiyah di Indonesia mengungsi dari rumahnya dan menempati gedung pemerintah selama 12 tahun, sedang seorang Ahmadi dari

Dua penganut Ahmadiyah atau sering disebut Ahmadi dari dua negara yang berbeda mengalami krisis terburuk dalam hidup mereka, bahkan keselamatan jiwa mereka sampai terancam karena keyakinan mereka, tetapi kini menghadapi prospek hidup yang berbeda.

Syahidin bersama 32 kepala keluarga lainnya menempati Wisma Transito milik Kementerian Transmigrasi di Mataram, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat selama 12 tahun terakhir sejak diusir oleh massa karena ia adalah Ahmadi, penganut aliran Islam yang dianggap sesat oleh umat Islam arus utama.

Sementara di Pakistan, pada bulan Oktober 2011, sekelompok pria memaksa dr Shah Muhammad Javid -yang juga merupakan Ahmadi- dan putranya keluar dari rumah untuk masuk ke dalam kotak besi di atas truk. Kini dia membangun hidup baru di Inggris.

Penolakan terhadap jemaah Ahmadiyah jauh lebih marak dan lebih formal di Pakistan, negara yang sempat menjadi pusat Ahmadiyah sebelum dipindahkan ke London, ibu kota Inggris, tahun 1984.

Persekusi dan ancaman pembunuhan kerap dialami oleh Ahmadi, terutama mereka yang memegang posisi penting di masyarakat dan pemerintahan, maupun mereka yang tergolong berada.

Berikut kisah pribadi Syahidin, penganut Ahmadiyah warna negara Indonesia, dan dr Shah Muhammad Javid, warga negara Pakistan.

Syahidin (48), pengungsi Ahmadiyah di tanah kelahiran

Bangunan mungil di tepi sawah nan hijau sedianya akan menjadi tempat bagi Syahidin untuk membesarkan empat anaknya. Menghadap area persawahan dan membelakangi ladang di Dusun Ketapang, Desa Gegerung, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, rumah BTN itu tampak ideal untuk ditinggali oleh sebuah keluarga.

Dari balik tembok ruang tamu dan kamar tidur, hamparan sawah tampak membentang luas. Pohon nangka mengayomi halaman dan bekas teras. Hanya saja rumah tersebut kini tinggal tembok dan sebagian atapnya.

"Kami baru menempati rumah ini sekitar satu tahun sebelum diusir. Pada waktu itu, massa merusak rumah, ada jam dinding diparang, pintu didobrak, jendela dirusak. Semua isi rumah dijarah, kusen pintu, kusen jendela diambil oleh orang-orang yang tidak suka terhadap kami," ungkap Syahidin.

Protes di Jakarta
BAY ISMOYO/AFP/Getty
Kelompok garis keras Islam marak menggelar aksi demonstrasi pada pertengahan tahun 2000-an untuk menuntut pemerintah membubarkan Ahmadiyah.

Ditambahkannya sambil melakukan pengrusakan, massa melontarkan kata-kata yang dirasakannya provokatif, "'Ambil saja harta orang Ahmadiyah karena mereka sesat'."

Ia beserta anak dan istrinya serta puluhan tetangga menyaksikan harta mereka dirusak dan diambil dalam peristiwa penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah di Ketapang pada Februari 2006 silam.

Tidurkan anak

Syahidin belum tahu kapan impiannya untuk kembali menempati hak miliknya akan terwujud.

"Yang paling terkesan sampai sekarang, anak saya yang pertama waktu masih kecil selalu ingin ditidurkan di dekat jendela karena anginnya semilir.

"Dia selalu tidur nyenyak di sini. Jika ibunya pergi pun ia selalu tidur nyenyak asalkan di dekat jendela," ungkap Syahidin sambil menunjukkan lokasi ranjang di bekas kamar tidurnya.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved