Selasa, 12 Mei 2026

Bahas Suriah, Turki, Iran dan Rusia akan Bertemu di Ankara

Perundingan sebelumnya di Astana, Kazakhstan adalah langkah awal bagi ketiga negara untuk mengamankan kepentingannya di Suriah.

Tayang:
Pemimpin Iran Hassan Rouhani, Presiden Rusia Vladimir Putin,dan Presiden Turki Recep Erdogan (sumber: The New York Times) 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Gilang Syawal Ajiputra

TRIBUNNEWS.COM, TURKI -- Keputusan Trump untuk segera menarik mundur pasukan Amerika Serikat (AS) dari Suriah dan ketidakhadiran negara Barat lainnya dalam perang saudara 7 tahun itu, membuat tiga kekuatan besar lainnya di Suriah membentuk aliansi.

Dilansir dari berita yang dirilis Firstpost pada Rabu (4/4/2018), tiga negara yang paling berpengaruh dalam konflik Suriah akan melakukan pertemuan hari ini di ibukota Turki, Ankara sebagai langkah lanjutan dari pertemuan sebelumnya di Sochi, Rusia dan Astana, Kazakhstan beberapa waktu lalu.

Ketua Pusat Kajian Ilmu Pengetahuan Ekonomi dan Kebijakan Luar Negeri Istanbul, Sinan Ulgen mengatakan bahwa ketiga negara itu adalah yang paling berpengaruh di Suriah saat ini dan berpengaruh dalam menentukan hasil perang 7 tahun itu.

"Ketiganya menjadi kekuatan regional yang bersedia menginvestasikan sumber daya militer untuk mempengaruhi hasil dari konflik." kata Ulgen dikutip oleh Firstpost.

Elizabeth Teoman, seorang analis Turki di Institute for Study of War (ISW) yang berpusat di Washington, AS juga mengatakan, perundingan sebelumnya di Astana, Kazakhstan adalah langkah awal bagi ketiga negara untuk mengamankan kepentingannya di Suriah.

"Proses Astana adalah sebuah kendaraan di mana Turki, Rusia, dan Iran, sedang mencari untuk mengelola perang dan mengamankan berbagai kepentingan mereka," kata Teoman dikutip oleh Firstpost.

Teoman juga mengatakan, kalau Presiden Turki Recep Erdogan sebenarnya adalah mitra yang lemah, tetapi Turki memili agenda sendiri, yaitu melawan kelompok separatis Kurdi, YPG.

"Erdogan adalah mitra yang lebih lemah dalam hal kekuatan darat dan kontrol atas wilayah udara. Tetapi, ia telah membangun pengaruh dan membuktikan ia dapat menciptakan fakta di lapangan," kata Teoman.

Sementara itu, analis ISW lainnya, Jennifer Cafarella mengatakan, kalau kepentingan Turki pada dasarnya bertentangan dengan kepentingan Rusia dan Iran di Suriah, namun Turki akan mengupayakan tetap sejalan demi tujuannya melawan YPG.

"Dia (Erdogan) akan tetap selaras dengan mereka selama dia menganggap perlu mengejar tujuannya melawan YPG," kata Cafarella dikutip oleh Firstpost.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved