Senator Filipina Kabur ke Gedung Senat usai ICC Keluarkan Surat Perintah Penangkapan
Senator Filipina Ronald Dela Rosa kabur ke Senat usai ICC keluarkan surat perintah terkait perang narkoba Duterte.
Ringkasan Berita:
- Mahkamah Pidana Internasional (ICC) membuka surat perintah penangkapan terhadap Senator Filipina Ronald Dela Rosa terkait dugaan kejahatan kemanusiaan dalam perang narkoba era Rodrigo Duterte.
- Dela Rosa berlindung di gedung Senat untuk menghindari penangkapan.
- Kasus ini kembali memanaskan konflik politik antara kubu Duterte dan Presiden Ferdinand Marcos Jr.
TRIBUNNEWS,COM - Seorang senator Filipina, Ronald Dela Rosa, berlindung di gedung Senat Filipina setelah Mahkamah Pidana Internasional (ICC) membuka surat perintah penangkapan terhadap dirinya terkait perang narkoba mematikan era mantan Presiden Rodrigo Duterte.
Al Jazeera melaporkan surat perintah itu diterbitkan secara rahasia sejak 6 November 2025 dan menuduh Dela Rosa sebagai “pelaku tidak langsung” dalam kejahatan terhadap kemanusiaan berupa pembunuhan.
Dela Rosa merupakan mantan kepala Kepolisian Nasional Filipina yang memimpin operasi perang melawan narkoba pada periode 2016 hingga 2018, saat Duterte menjabat presiden.
Jaksa ICC menuduh operasi tersebut menyebabkan puluhan ribu orang tewas, termasuk tersangka pengguna dan pengedar narkoba.
Polisi Kejar Dela Rosa di Gedung Senat
Media lokal Filipina menayangkan rekaman saat agen Biro Investigasi Nasional mengejar Dela Rosa di koridor gedung Senat pada Senin waktu setempat.
BBC melaporkan Dela Rosa terlihat berlari menuju ruang sidang Senat sebelum akhirnya mendapat perlindungan dari otoritas parlemen.
Presiden Senat Filipina yang baru terpilih, Alan Peter Cayetano, kemudian memberlakukan “lockdown” di area Senat dan menolak menyerahkan Dela Rosa tanpa surat perintah dari pengadilan Filipina.
Baca juga: DPR Filipina Resmi Makzulkan Wapres Sara Duterte, Terancam Tak Bisa Jadi Pejabat Publik Seumur Hidup
Pihak kepolisian akhirnya menyatakan tidak akan menangkap Dela Rosa selama ia berada di bawah perlindungan Senat.
Dalam siaran langsung di Facebook, Dela Rosa memohon dukungan publik dan mengaku khawatir akan diterbangkan ke Den Haag, Belanda, tempat ICC berkedudukan.
“Mereka ingin menerbangkan saya ke Den Haag,” kata Dela Rosa seperti dikutip Al Jazeera.
ICC Ungkap Dugaan Kejahatan Kemanusiaan
ICC menuduh Dela Rosa bertanggung jawab atas pembunuhan sedikitnya 32 orang selama periode Juli 2016 hingga April 2018.
Kasus ini merupakan bagian dari penyelidikan besar terhadap perang narkoba Duterte yang sejak lama menuai kritik kelompok hak asasi manusia internasional.
Rodrigo Duterte sendiri telah berada dalam tahanan ICC di Den Haag sejak Maret 2025.
BBC melaporkan mantan presiden Filipina itu diduga membentuk, mendanai, dan mempersenjatai regu pembunuh untuk mengeksekusi tersangka pelaku narkoba tanpa proses hukum.
Pada April 2026, ICC mengonfirmasi dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan terhadap Duterte.