Milisi Muslim Rohingya dituduh membantai umat Hindu di Myanmar
Kelompok milisi Muslim Rohingya di Myanmar telah membunuh puluhan warga sipil penganut Hindu dalam rangkaian serangan pada Agustus 2017 lalu,
Akan tetapi, jenazah-jenazah di dalam kuburan itu bukanlah jasad warga Muslim. Menurut pemerintah Myanmar, jenazah-jenazah itu adalah warga Hindu yang dibunuh kelompok milisi Arsa.
Sejumlah wartawan dibawa ke lokasi kejadian untuk melihat kuburan tersebut dan jasad-jasadnya. Meski demikian, sikap pemerintah Myanmar yang terus menolak kehadiran penyelidik independen bidang HAM ke negara bagian Rakhine menimbulkan keraguan mengenai duduk perkara di Desa Ah Nauk Kha Maung Seik dan tetangganya, Desa Ye Bauk Kyar.
Fakta bahwa pemerintah Myanmar membantah aparatnya melakukan pelanggaran, walau ada begitu banyak kesaksian, menyebabkan klaim mengenai kuburan massal tambah disangsikan.
Saat itu, kelompok Arsa membantah terlibat dalam pembantaian tersebut. Selama empat bulan terakhir, kelompok itu tidak merilis pernyataan publik apapun.
Myanmar mengeluhkan pemberitaan sepihak mengenai konflik di Rakhine, namun banyak media asing, termasuk BBC, melaporkan pembunuhan warga Hindu pada September lalu.
Selain menuding kelompok Arsa melakukan pembantaian, Amnesty juga mengkritik "aksi kekerasan tak berdasar hukum dan sangat tidak proporsional yang dilakukan aparat keamanan Myanmar".
"Serangan mengerikan Arsa diikuti aksi pembersihan etnik militer Myanmar terhadap populasi Rohingya secara keseluruhan."
Menurut Tirana Hassan dari Amnesty International, investigasi ini "menyingkap pelanggaran hak asasi manusia oleh Arsa yang sebagian besar kurang dilaporkan selama sejarah kelam yang tak terkatakan di Negara Bagian Rakhine baru-baru ini ."
"Sulit mengabaikan kebrutalan aksi Arsa, yang menyisakan bekas pada para penyintas yang kami wawancarai. Pertanggungjawaban atas aksi keji ini sangat krusial sebagaimana kejahatan tehadap kemanusiaan yanh dilakukan aparat keamanan Myanmar di negara Bagian Rakhine di bagian utara," paparnya.
Arsa membantah tuduhan melakukan pembunuhan terhadap penduduk desa. Mereka menyebut tuduhan itu "kebohongan".
Kelompok Arsa melancarkan serangan subuh pada 25 Agustus 2017 terhadap sekitar 30 pos polisi dan militer Myanmar.
Aksi ini memicu operasi balasan militer, yang menyebabkan lebih dari setengah juta umat Islam Rohingya mengungsi ke negara tetangga, Bangladesh.
Komunitas Rohingya, dianggap Myanmar sebagai migran ilegal dari Bangladesh, meski mereka sudah berada di Myanmar selama beberapa generasi.