Kisah Noura, perempuan belia yang diperkosa suami dan menghadapi hukuman mati
"Saya membunuh suami saya karena dia memperkosa saya," kata Noura sambil menunjukkan pisau yang dipakai. Ia dijatuhi hukuman mati.
Keluarga besarnya meninggalkan daerah konflik Darfur pindah ke al-Bager ketika Noura masih anak-anak.
Mereka tidak mempunyai banyak uang, tetapi usaha ayah Noura -sebuah toko kelontong kecil yang menjual berbagai peralatan dan minyak- memungkinkan anak perempuannya mendapatkan pendidikan.
Hal ini membuatnya sangat gembira.
Tetapi pada tahun 2015, sepupu Noura, Abdulrahman Mohamed Hammad, 32 tahun, melamarnya. Saat itu dia berumur 16 tahun.
Ibunya mengatakan anak perempuannya pada mulanya tidak terganggu dengan lamaran tersebut, tetapi Noura meminta diizinkan melanjutkan pendidikannya. Dia juga meminta pernikahannya ditunda sampai ibunya melahirkan.
Meskipun demikian keluarga terus mendesak, terutama ayahnya sendiri, Hussein.
"Banyak anak perempuan di daerah ini menjadi hamil dan melahirkan anak haram," kata Hussein.
Hussein mengatakan dirinya tidak menginginkan anak perempuannya mengalami nasib serupa dan menjadi ibu tanpa suami.
- Wawancara Kapolri: tentang pemeriksaan korban perkosaan itu
- Bintang Brasil Robinho dihukum penjara untuk perkosaan massal
- Tito Karnavian: Korban perkosaan bisa ditanya oleh penyidik 'apakah nyaman' selama perkosaan?
Meskipun Noura mengikuti upacara pendahuluan, dia kemudian semakin terlihat menolak pernikahan.
Dia melarikan diri ke bibinya di Sinnar, sebuah kota sekitar 350 km dari desanya. Noura berada disana selama dua hari. Dia diajak pulang ke rumah dengan pemahaman bahwa pernikahan tidak akan dirampungkan.
Kenyataannya, begitu dia kembali upacara pernikahan dilanjutkan tetapi dia tidak diharuskan tinggal bersama suaminya.
Selama dua tahun sesudahnya Noura tetap berada di rumah keluarganya. Ketika Abdulrahman mengunjungi, dia langsung mengatakan dirinya tidak berkeinginan menikah dengannya.
Meskipun demikian, tetua keluarga menekan agar Noura dan suaminya mulai meresmikan hubungan dan bertingkah laku seperti pasangan yang telah menikah secara resmi.
Di masyarakat yang dekat hubungannya, memang merekalah yang mengambil keputusan. Kehormatan keluarga adalah bagian terpenting dari kebudayaan mereka.