Tangisan di Hyde Park setelah Inggris ditekuk Kroasia
Semula larut dalam kegembiraan namun kemudian berubah menjadi kepedihan. Itulah yang dirasakan fans Inggris di manapun setelah Harry Kane dkk
"Atmosfirnya sangat luar biasa," kata Michael Grant, 36 tahun, seorang agen perumahan. "Saya sudah lama tidak melihat situasi seperti sekarang."
Namun atmosfir kegembiraan itu tak terlanjut setelah Kroasia menyamakan kedudukan melalui tendangan Ivan Perisic di menit ke-68.
Dan puncaknya, yang ditandai suasana senyap dan linangan air mata, ketika ujung tombak Kroasia Mario Mandzukic menyudahi impian Inggris tampil di final, lewat golnya di menit 109.
"Kesempatan yang sudah di depan mata, gagal kami raih," kata Josh Ogunde, 17 tahun, yang berada di lokasi nonton bareng di dekat Trafalgar, di pusat kota London.
Dengan langkah gontai, dia dan ribuan orang lainnya berangsur-angsur meninggalkan Trafalgar. Situasi murung juga terlihat di Hyde Park.
Sebagian warga London masih memilih bertahan di lokasi nonton bareng, dan mereka masih menyuarakan sikap optimis walaupun impian menjuarai dunia sudah terkubur.
"Saya percaya kita bisa berjaya lagi di lain waktu, dan sebelum saya mati, saya ingin melihat Inggris memenangkan Piala Dunia," kata Ogunde, 17 tahun.
Matt Reece, yang berusia 25 tahun, yang bekerja di bagian pemasaran sebuah perusahaan swasta, mengatakan timnas Inggris kali ini sudah jauh melampaui harapannya, walaupun dia tetap kecewa melihat penampilan tim kesayangannya di laga semi final.
"Ada kesempatan di depan mata, tapi mereka tidak merengkuhnya," ujarnya dengan nada masygul.
Di Moskow, sejumlah suporter Inggris yang meninggalkan stasion Luzhniki terlihat menangis di antara ratusan pendukung Kroasia yang justru merayakan kemenangan timnya.
"Kroasia layak menang," kata seorang suporter Inggris, Mark Burcher, 50 tahun, seperti dilaporkan kantor berita Reuter.
Meski demikian, Burcher menaruh harapan besar kepada tim asuhan Southgate ini bakal tampil lebih baik di piala dunia berikutnya.