Breaking News:
BBC

Piala Dunia 2018: Apakah Rusia pemenang sebenarnya?

Piala Dunia 2018 adalah keberhasilan Putin dalam membangun citra mentereng terhadap pemerintahannya, tetapi ini bukanlah kisah seutuhnya.

Piala Dunia 2018 telah dilihat sebagai kemenangan pemimpin Rusia Vladimir Putin dalam membangun citra mentereng terhadap pemerintahannya, namun di luar sepakbola tetap ada keprihatinan mengenai komitmen negara itu untuk demokrasi, HAM dan tatanan internasional.

Selama sebulan terakhir, saya hampir tidak mengenali Moskow.

Seperti hempasan tornado di film legendaris Wizard of Oz, Piala Dunia menyerbu kota dan menyapu saya dari dunia sepia yang serba kelabu dan kecoklatan, ke atas pelangi, ke dunia mimpi yang serba berwarna.

Di dunia Oz ini, atau dikenal sebagai "Piala Dunia Rusia", penggemar sepak bola dari seluruh dunia memadati jalanan di pusat Moskow.

Mereka bernyanyi, menari, dan berpesta sepanjang malam di lautan sombrero Meksiko, ponco Peru, helm Viking Islandia, dan tentu saja, triwarna Rusia. Bahkan para perwira polisi Rusia yang biasanya berwajah kaku pun tersenyum.

Selama lebih dari 20 tahun hidup di Moskow, saya tidak dapat mengingat masa ketika kota itu terasa lebih santai, lebih kosmopolitan, lebih ramah.

Penggemar sepakbola dari Argentina bepesta di Rusia.
Getty Images
Penggemar sepakbola dari seluruh dunia bepesta di Rusia.

Stadion-stadion baru yang menakjubkan, perjalanan kereta api gratis ke lokasi pertandingan dan tidak ada kerumunan massa yang melakukan kekerasan telah memberi kesan bagi para fans yang berkunjung.

Rusia tampil layaknya negara yang ramah: sangat kontras dengan citra otoriter negara itu. Semua suporter asing yang saya ajak bicara sangat terkejut.

"Saya berterima kasih kepada orang-orang Rusia atas keramahan mereka," kata pendukung Inggris, Darren dari Blackpool kepada saya di dekat Lapangan Merah, Moskow

"Semua yang dikatakan pemerintah Inggris tentang Rusia adalah bohong. Propaganda. Permainan yang adil untuk Putin. Dia melakukan pekerjaan cemerlang dengan Piala Dunia," katanya.

Halaman
123
Sumber: BBC Indonesia
BBC
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved