Air Mata Iringi Berakhirnya Reuni Antar Keluarga Korea

Pada akhir putaran pertama reuni antar kerabat di dua Korea terlihat begitu emosional dan menyayat hati ketika para keluarga saling menangis, memeluk,

Editor: Adi Suhendi
(AFP/KOREA POOL/Kompas.com)
Kim Byung-oh yang berasal dari Korea Selatan (kiri) menangis sambil menggenggam tangan adiknya, Kim Sun Ok yang tinggal di Korea Utara. Kakak beradik berusia 88 dan 81 tahun itu terpisah akibat Perang Korea 1950-1953. Mereka kembali setelah 68 tahun lamanya melalui reuni yang digelar sejak Senin (20/8/2018) hingga Rabu (22/8/2018).(AFP/KOREA POOL) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau

TRIBUNNEWS.COM, SEOUL - Ratusan orangtua dari dua Korea harus kembali berpisah, Rabu (22/8/2018) setelah putaran pertama reuni antara kerabat yang dipisahkan perang Korea tahun 1950-1953 berakhir.

Sekitar 200 warga Korea Selatan dan anggota keluarga mereka akan kembali ke negerinya setelah tiga hari pertemuan dengan anggota keluarga mereka dari Korea Utara di Diamond Mountain resort, Pyongyang.

Pada putaran kedua reuni, 337 warga Korea Selatan akan berpartisipasi yang dijadwalkan digelar Jumat (24/8/2018) sampai Minggu (26/8/2018).

Baca: PSI: Dalam Kondisi Berduka Seperti Ini, Demokrat Seharusnya Tidak Memperkeruh Suasana

Pada akhir putaran pertama reuni antar kerabat di dua Korea terlihat begitu emosional dan menyayat hati ketika para keluarga saling menangis, memeluk, dan membelai.

Pelukan itu terasa begitu cepat saat pertemuan tersebut seaka menjadi pertemuan terakhir kali bagi mereka untuk saling melihat satu sama lain sebelum mereka tutup usia.

Banyak peserta dari Korea Selatan adalah pengungsi perang yang berkumpul kembali dengan saudara kandung atau anak-anak mereka.

Banyak dari mereka sekarang telah berusia 70-an tahun.

Baca: Berikan Pesan Idul Adha, Jokowi: Pada saat Kita Membangun Negeri Sesungguhnya Kita sedang Berkorban

Pada pertemuan makan siang terakhir mereka sebelum warga Korea Selatan pulang, Lee Ki-soon (91)tampak kehilangan kata-kata ketika dia dengan teniang meminum segelas soju dengan anaknya yang berada di Korea Utara yang kini berusia 75 tahun.

Di dekatnya, Ri Chol, warga Korea Utara berusia 61 tahun, tampak meneteskan air mata ketika dirinya memegang erat tangan seorang nenek 93 tahun warga Korea Selatan yang baru saja ia temui.

"Jangan menangis, Chol," ucap Kwon Seok berkata kepada cucunya.

Sun Jong, warga Korea Utara berusia 70 tahun, dengan hati-hati menyuapi makan ayahnya yang berwarga negara Korea Selatan berusia 100 tahun.

Baca: Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon Kritik Soal Stuntman Video Moge Jokowi di Asian Games

Di sisi lain, Han Shin-ja (99) mengatakan kepada kedua putrinya dari Korea Utara untuk banyak makan "chap-ssal" atau ketan guna menjaga kesehatan.

Puterinya menangis ketika Han mengatakan kepada mereka dia akan selalu berdoa untuk kebahagiaan mereka dan juga untuk masa depan cucunya di Korea Utara.

Meskipun dia tidak pernah dapat melihat cucunya tersebut.

Terlihat pula beberapa kerabat bertukar nomor telepon dan alamat rumah, meskipun Korea sejak akhir perang telah melarang warga negara masing-masing untuk mengunjungi kerabat atau menghubungi mereka tanpa izin.(AP)

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved