Minggu, 19 April 2026

Krisis Venezuela: Orang-orang yang siap mati untuk Presiden Maduro

Di tengah krisis politik yang terjadi di Venezuela dengan pihak oposisi Juan Guaidó menetapkan sebagai pemimpin sementara, terdapat sejumlah

Di bangunan kotor di Caracas, Hugo Chávez seolah masih hidup. Patung mendiang presiden Venezuela tersebut, dengan mengenakan seragam militer, berdiri di sudut ruang utama, seperti menyambut semua pengunjung.

Terpasang di dinding lusuh, foto dirinya terlihat tersenyum, dicetak pada bendera nasional kuning, biru dan merah, di atas meja di mana Subero dan rekan-rekannya mengadakan pertemuan selama berjam-jam.

Ikatan puluhan tahun Subero dengan Chávez melampaui ideologi.

Sersan purnawirawan berusia 47 tahun tersebut telribat dalam aksi pimpinan Chávez pada tanggal 4 Februari 1992 untuk menggulingkan Presiden Carlos Andrés Pérez.

Usaha tersebut gagal dan Subero, Chávez dan orang-orang lainnya dipenjara selama bertahun-tahun.

Tetapi kesetiaan Subero terhadap pemimpinnya tidak pernah goyah.

Dia sekarang memimpin salah satu kelompok bernama colectivos, yang memandang diri mereka sebagai pembela revolusi Bolivar Chávez dan bersumpah untuk membela penggantinya, Presiden Nicolás Maduro, yang sedang menghadapi tantangan terbesarnya.

Pemimpin ini sedang berjuang menolak terus meningkatnya tekanan untuk mundur dan melakukan pemilihan umum dini, sementara Juan Guaidó, pimpinan National Assembly yang dikuasai pihak oposisi, mendapatkan pengakuan dunia setelah menyatakan diri sebagai presiden sementara.

Tetapi Subero dan banyak orang lain di colectivo -nya, yang secara tidak sengaja bernama 4 de Febrero, siap membela Maduro yang sudah berkuasa sejak tahun 2013.

"Saya siap berperang sampai saya meninggal," kata Subero.

'Campur tangan asing'

Subero
Kevin Jordan
Subero: "Saya siap dan bertekad untuk berperang."

Colectivos muncul saat Chávez berkuasa dan, dengan dukungan pemerintah, menyebar di masyarakat sebagai organisasi sosial yang mendukung penerapan program bantuan resmi. Mereka mengatakan memiliki ribuan anggota di negara itu.

Tetapi sebagian dari mereka telah dituduh kelompok oposisi dan hak asasi manusia bertindak sebagai kelompok paramiliter, sering kali menggunakan kekerasan untuk menguasai daerah tertentu dan menyerang para pengecam pemerintah, pengunjuk rasa dan wartawan.

Sementara terjadi peningkatan ketidakpuasan terhadap Maduro, dipicu oleh keanjlokan ekonomi dan meluasnya kelangkaan pangan dan obat-obatan, sebagian pihak khawatir keadaan akan semakin diwarnai kekerasan karena colectivos yang bersenjata, bekerja sama dengan kekuatan keamanan pendukung setia presiden, berperan penting di jalan-jalan.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved