Minggu, 12 April 2026

Klinik kesehatan di Kalimantan Barat yang menerima pembayaran dengan bibit pohon

Praktik ini membantu menurunkan angka penebangan hutan di Kalimantan Barat dalam satu dekade terakhir.

Sebuah klinik kesehatan di Kalimantan Barat menerima pembayaran dengan bibit pohon, praktik yang membantu menurunkan angka penebangan liar dalam satu dekade terakhir.

Di satu klinik di Sukadana, Kalimantan Barat, seorang ibu membawa lebih dari 200 bibit pohon jengkol miliknya.

Bibit itu dibawa Asma, nama ibu itu, bukan untuk dijual, tapi untuk membayar biaya pengobatan keluarganya di klinik yang dinamakan Alam Sehat Lestari atau ASRI.

Bibit pohon yang dibawanya itu bukan untuk biaya satu kali berobat namun sebagai deposit biaya pengobatan keluarganya. Sejauh ini, Asma telah memiliki deposit senilai Rp2 juta, yang dia gunakan untuk membawa ayah dan ibunya berobat.

hutan
BBC
Asma membayar biaya pengobatan menggunakan bibit pohon jengkol.

"Ayah saya sakit prostat, ada batu ginjal. Saya bayar pakai bibit untuk pengobatannya, ada keringanan untuk saya. Karena kalau pakai uang saya tidak mampu. Ibu saya juga berobat pakai bibit dia sakit maag dan asam urat," ceritanya saat ditemui akhir Januari lalu.

Sistem pengobatan seperti ini dirintis oleh seorang dokter gigi Hotlin Omposunggu dan dokter Kinari Webb pada 2007. Mereka prihatin melihat tingginya praktek penebangan liar di daerah yang terletak di seputar Taman Nasional Gunung Palung, area seluas 90.000 hektar, habitat sekitar 2500 orang utan dan satwa liar lain.

dokter di kilinik Asri
BBC
Biaya pengobatan bisa dibayar tanpa uang tunai di klinik ASRI.

Pada periode 1988 sampai 2002, diperkirakan sekitar 38% lahan hutan berkurang.

"Banyak masyarakat yang mau berobat (pada era tahun 2000-an) tidak ada pilihan lain hingga harus menebang hutan untuk membayar biaya pengobatan," kata Hotlin. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang meraih penghargaan utama Whitley Award pada 2016, penghargaan kedua yang ia terima dari badan konservasi Inggris.

"Jadi, kami memutus mata rantai (kesulitan) itu, yaitu bagaimana mereka tidak harus menebang hutan untuk membayar biaya pengobatan, yang bisa kami sediakan," jelas alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, Medan, ini.

Dalam kondisi sekarang pun, sekalipun mendapat bantuan dari pemerintah (melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) untuk beberapa jenis perawatan seperti biaya operasi, biaya perjalanan menuju kota "juga perlu uang," kata Hotlin.

Saat ini jumlah pembalakan liar turun dratis sebesar 80% dalam 10 tahun terakhir.

Pembalak liar di sekitar Taman Nasional Gunung Palung pada tahun 2007 berjumlah sekitar 1350 orang, dan pada 2017 menjadi sekitar 150 orang.

Dari pembalak jadi penjaga hutan

Salah seorang yang menyatakan merasa bersalah karena pernah menjadi pembalak liar adalah Muhammad Yusuf atau sering disapa Jili.

Selama lima tahun ia menebangi pohon-pohon di seputar Gunung Palung.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved