Shamima Begum: Kepulangan remaja ISIS ke Inggris 'dapat dicegah'
Menteri Dalam Negeri Inggris, Sajid Javid, memperingatkan remaja yang meninggalkan Inggris untuk menjadi pengantin jihad bergabung dengan kelompok
Dan jika dia masih di bawah 18 tahun, pemerintah berkewajiban untuk mengambilnya dan memikirkan "kepentingan terbaik" anaknya yang belum lahir untuk memutuskan langkah terbaik selanjutnya.
Tetapi dia sekarang adalah orang dewasa yang tidak menyesal - yang berarti dia harus bertanggung jawab atas keputusannya, bahkan meskipun jika perjalanannya ke Suriah karena pengaruh orang lain dan diwarnai pelecehan.
Pengantin jihad Inggris lainnya, Tareena Shakil, yang keluar dari wilayah perang dengan anaknya, berbohong kepada pihak keamanan saat kembali dan dipenjara karena menjadi anggota kelompok teroris.
Jika Begum keluar dari negara ini, itulah jenis tuntutan yang akan dihadapinya - di samping mendorong dan mendukung terorisme.
Tetapi ini masih jauh. Jika dia berhasil mencapai bandara, Inggris dapat melarangnya sementara untuk kembali sampai dia setuju diselidiki, diawasi dan dideradikalisasi.
Dinas layanan sosial tentu saja akan terlibat untuk mempertimbangkan apakah bayinya nanti harus dipisahkan untuk melindunginya dari radikalisasi.
----------------------------------------------------------------------
- Buletin ISIS bahasa Indonesia, Fatihin, dukung serangan teror Surabaya
- Benarkah Bahrumsyah, komandan tertinggi ISIS asal Indonesia tewas di Suriah?
- WNI yang bergabung ISIS, Indonesia 'tidak bisa tolak deportasi'
Sebelumnya, dalam wawancara dengan koran the Times, Shamima Begum, yang kini berusia 19 tahun, menceritakan ia melihat "kepala yang dipenggal" di dalam tempat sampah. Dia mengaku "tidak merasa terganggu".
Berbicara dari sebuah kamp pengungsi di Suriah, dia mengatakan dirinya saat ini sedang hamil sembilan bulan dan ingin kembali ke Inggris demi bayinya.
Dia mengaku sudah memiliki dua anak sebelumnya tetapi semuanya meninggal dunia.
ISIS telah kehilangan kendali atas sebagian besar wilayah yang dikuasainya, termasuk pertahanan terakhir mereka yaitu Mosul di Irak dan Raqqa di Suriah.