Breaking News:

Teguh Santosa di Forum WJC 2019: "Kacamata Kombat" Harus Dilepaskan Untuk Bantu Perdamaian Korea

Masyarakat pers internasional diimbau untuk ikut mengawal agenda tersebut dengan antara lain menanggalkan lensa kombatif

HandOut/Istimewa
Teguh Santosa, ketika berbicara dalam forum 2019 World Journalist Conference (WJC) di Seoul, Korea Selatan, Senin siang (25/3). 

TRIBUNNEWS.COM, SEOUL - Perdamaian dan reunifikasi Semenanjung Korea adalah tugas konstitusional yang diemban Republik Korea atau Korea Selatan, juga Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara.

Masyarakat pers internasional diimbau untuk ikut mengawal agenda tersebut dengan antara lain menanggalkan lensa kombatif dalam melihat situasi konflik di Semenanjung Korea.

Hal itu disampaikan wartawan Indonesia, Teguh Santosa, ketika berbicara dalam forum 2019 World Journalist Conference (WJC) di Seoul, Korea Selatan, Senin siang (25/3). 

Kegiatan yang diselenggarakan Asosiasi Wartawan Korea (JAK) di Korea Press Center ini dihadiri peserta aktif dari 50 negara.

Pembicara lain dalam diskusi ini adalah Deputi Direktur Ekesekutif SMG News Center Hongkong Zhu Xiaoqian, wartawan Die Welt Jerman Teresa Pfuetzner, Wakil Presiden Asosiasi Wartawan Korea (JAK) Woosuk Kenneth Choi, dan Presiden Masyarakat Nasional Wartawan Profesional (NSPJ) Amerika Serikat Janet Marie Tarquinio.

“Reunifikasi adalah tugas konstitusional di Korea Utara dan juga Korea Selatan. Para pemimpin mereka di masa lalu, terutama setelah Perang Dingin berakhir, telah menggelar serangkaian pembicaraan ke arah itu,” ujar Teguh merujuk pada pertemuan pemimpin Korea Utara Kom Jong Il dan Presiden Korea Selatan Moon Jaein di Pyongyang tahun 2000.

Dalam pertemuan tersebut, pemimpin kedua negara sepakat bahwa reunifikasi adalah pekerjaan bersama bangsa Korea yang harus dilakukan dalam suasana damai dan persaudaraan. Adapun tentang bagaimana akhir dari unifikasi atau reunifikasi itu diserahkan sepenuhnya pada dialog bangsa Korea tanpa campur tangan pihak lain.

Menurut Teguh yang telah berkali-kali berkunjung ke Pyongyang dan Seoul, proses perdamaian antara kedua Korea sering kali terganggu oleh pihak ketiga yang khawatir perubahan lanskap politik di kawasan ini dapat membahayakan posisi geostrategis dan kepentingan ekonomi mereka.

Anggota Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu juga menyebut pertemuan dua pemimpin Korea, Moon Jaein dan Kim Jong Un, tahun lalu sebanyak tiga kali memperlihatkan kemajuan yang sangat signifikan dalam pembicaraan antar-Korea.

Selain itu, Kim Jong Un juga telah bertemu dua kali dengan Presiden AS Donald Trump, di Singapura tahun lalu dan di Vietnam akhir bulan lalu.

Halaman
12
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved