Indonesia dan lima negara Asia 'hadapi ancaman banjir laut tahunan pada 2050'
Data baru memperlihatkan enam negara Asia (China, Bangladesh, India, Vietnam, Indonesia, dan Thailand), 'akan menghadapi ancaman banjir laut
Berikut adalah perbandingan jumlah manusia yang terdampak berdasar perkiraan baru versus perkiraan lama
- China - 93 juta vs 29 juta
- Bangladesh - 42 juta vs 5 juta
- India - 36 juta vs 5 juta
- Vietnam - 31 juta vs 9 juta
- Indonesia - 23 juta vs 5 juta
- Thailand - 12 juta vs 1 juta
Tim ini telah memproduksi peta interaktif untuk menggambarkan perbedaan antara perkiraan berdasarkan Endeavour dengan data yang sudah direvisi dengan Lidar.
Peta ini juga memungkinan untuk melihat perubahan-perubahan keadaan, tergantung bagaimana persoalan krisis iklim diatasi.
Berdasarkan perkiraan pesimistis, masa depan diperkirakan akan terus dipengaruhi emisi gas yang tinggi, maka CoastalDEM memperkirakan sebanyak 630 juta orang akan terkena dampak banjir laut tahunan di tahun 2100.
- Bangladesh, negara yang perlahan menghilang karena gelombang pasang
- Bisakah Bumi menampung 11,2 miliar orang di akhir abad ini?
- Bangkok tak terbendung dari banjir
Di tahun 2050, jumlah ini sebanyak 340 juta jiwa, meningkat dari perkiraan sebelumnya sekitar 250 juta jiwa.
Secara umum, CoastalDEM memperkirakan populasi global berada dalam ancaman banjir laut tiga kali lipat lebih besar daripada apabila yang dipakai adalah paket data dari Endeavour.
"Kami memperkirakan satu miliar orang kini tinggal di daratan yang ketinggiannya di bawah 10 meter dari permukaan air laut, dan 250 juta di antaranya tinggal di kawasan yang ketinggiannya di bawah satu meter," tulis Kulp dan Strauss.
Ketinggian air laut terus meningkat 3 mm per tahun dalam beberapa dekade terakhir, dan percepatan dalam tren ini kini bisa diamati dengan jelas.
Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyatakan bulan lalu bahwa, dakam skenario terbutuk, ketinggian air laut secara global, rata-rata bisa meningkat 1,1 meter pada tahun 2100.
Kulp dan Strauss sendiri menekankan adanya keterbatasan dalam analisis mereka. Misalnya mereka mengasumsikan populasi yang statis - pertumbuhan dan migrasi di masa depan tidak diperhitungkan.
Mereka juga tidak memperhitungkan perubahan-perubahan dalam benteng air laut.
Secara regional, analisis Climate Central ini tidak terlalu mengejutkan mengingat survei dengan Lidar sudah banyak digunakan untuk menilai risiko banjir air laut.