Menteri Lingkungan Hidup Jepang Upayakan Pengurangan Nuklir dan Batu Bara

Menteri Lingkungan Hidup Jepang Shinjiro Koizumi berusaha kuat untuk mengurangi penggunaan nuklir dan batubara

Menteri Lingkungan Hidup Jepang Upayakan Pengurangan Nuklir dan Batu Bara
Richard Susilo
Menteri Lingkungan Hidup Jepang Shinjiro Koizumi (38) 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Menteri Lingkungan Hidup Jepang Shinjiro Koizumi berusaha kuat untuk mengurangi penggunaan nuklir dan batu bara untuk pembangkit listrik (Power Plant).

“Kita sedikit demi sedikit akan mengurangi penggunaan nuklir dan batu bara,” papar Menteri Koizumi kepada Tribunnews.com sore ini (19/12/2019).

Hal itu juga sudah menjadi kebijakan pemerintah Jepang untuk mengurangi kedua produk tersebut untuk Power Plant.

“Sedangkan mengenai protes yang dikakukan beberapa orang Indonesia mengenai penggunaan batu baru sebagai power plant, kami tak bisa bergerak sendiri karena ada kementerian ekonomi perdagangan dan industri. Jadi kita harus berkoordinasi dengan mereka,” paparnya lebih lanjut.

Menteri Koizumi menyadari adanya tentangan kuat masyarakat Jepang terhadap penggunaan nuklir terutama setelah bencana alam 11 Maret 2011 dan meledaknya PLTN Fukushima.

“Saya tahu memang banyak rakyat Jepang menentang nuklir. Tetapi yang menentang batu bara kok kurang terdengar ya di Jepang?”

Sebaliknya, tambah Menteri Koizumi lagi, saat dirinya ke Spanyol menghadiri pertemuan lingkungan hidup dunia COP 25 menyatakan terasa sekali banyak anggota masyarakat menentang penggunaan batu bara.

“Memang beda ya di Jepang dan di luar negeri. Ternyata di Spanyol kuat juga masyarakat yang menentang penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik,” tekannya .

Bahkan ditambahkan lagi, Bank Pembangunan Afrika dengan tegas menolak bantuan atau pinjaman dana bagi pembangkit listrik tenaga batu bara.

Oleh karena itu Jepang akan semakin fokus kepada energi terbarukan nantinya dengan target 80% energi terbarukan di tahun 2050, asalkan bisa dimulai segera dari sekarang, tambahnya.

Caranya antara lain dengan menciptakan zero carbon cities di 20 pemda Jepang terutama di kota besar seperti Tokyo, Osaka, Kyoto dan Yokohama.

"Pemda mewakili 45% juta penduduk atau 35% dari total populasi serta mewakili 2 triliun dolar AS GDP per 10 Desember 2019. Jadi kalau dari kota besar sudah bisa zero carbon di tahun 2050, energi terbarukan pun akan sukses pula nantinya," jelasnya lebih lanjut.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved