Tradisi Membuat Tahu Beku Jepang Dimulai di Fukushima

Cuaca dingin minus nol derajat Celcius di Fukushima yang datang dari Azumayama menandakan dimulainya pembuatan tahu putih dingin yang membeku.

Tradisi Membuat Tahu Beku Jepang Dimulai di Fukushima
Foto Fukushima Minpo
Tomoko (kiri) mengajarkan Sachina (kanan) tradisi membuat tahu beku di Fukushima Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo di Jepang

TRIBUNNEWS.COM TOKYO - Cuaca dingin minus nol derajat Celcius di Fukushima yang datang dari Azumayama menandakan dimulainya pembuatan tahu putih dingin yang membeku.

"Apa yang membesarkan hati saya adalah kehadiran Sachina (10), seorang cucu yang telah berada di sekolah dasar selama lima tahun," ungkap Tomoko Saito (62) yang sedang mengajarkan membuat tahu dingin, Jumat (27/12/2019) di Fukushima.

Hal tersebut akan dilakukannya sedikit demi sedikit.

Sekitar empat tahun lalu, sekolah telah membantu pembuatan tahu dingin beku di hari libur.

"Kalau lihat Sachina membuat tahu beku itu saya sampai menangis," tambah Tomoko.

Di distrik Tachikoyama di bagian timur Kota Fukushima, pembuatan tahu beku, tradisi lama kota tersebut untuk akhir tahun, telah mencapai puncak pembuatannya.

Baca: Peneliti Jepang Naoki Tsukahara Ungkap Hasil Penelitiannya Terkait Burung Karasu Selama 17 Tahun

Baca: Termasuk Takuto Inoue/Yuki Kaneko, 7 Nama Ini Dipastikan Hengkang dari Pelatnas Jepang 2020

Perusahaan Yoshimitsu Saito Foods bekerja keras untuk menghasilkan tahu beku untuk perayaan tahun baru nanti.

"Ayah saya, Yoshimitsu, mendirikan perusahaan pada Oktober 1979 (Showa 54). Suamiku Toshiyuki (64) adalah generasi kedua," ujarnya.

Tomoko telah membantu keluarganya sejak sekolah dasar.

Selama tahun baru ekstur halus dan rasa kedelai menyebar ke seluruh wilayah itu.

Tradisi Membuat Tahu Beku di Fukushima Jepang
Tomoko (kiri) mengajarkan Sachina (kanan) tradisi membuat tahu beku di Fukushima Jepang.

"Saya juga menantikan tahun ini. Setiap tahun, saat ini, permintaan diterima dari dalam dan luar perfektur," kata dia.

Namun, jumlah teman sebaya telah berkurang karena pindah ke tempat lain dan munculnya pemanasan global membuatnya khawatir.

Kedua putranya bekerja untuk perusahaan.

"Berapa tahun lagi kita bisa melanjutkan?" tanya Tomoko khawatir tentang masa depannya.

Bagi penggemar Jepang dapat ikut diskusi dan info terakhir dari WAG Pecinta Jepang. Email nama lengkap dan nomor whatsapp ke: info@jepang.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved