Jumat, 24 April 2026

Virus Corona

Presiden AS Donald Trump Tak Sabar Buka Kembali Sekolah

Trump menyarankan sekolah-sekolah dapat dibuka lebih cepat karena banyak gubernur negara bagian telah meliburkan sekolah selama sisa tahun akademik.

Penulis: Febby Mahendra
Editor: Dewi Agustina
Tangkap Layar CNN
Presiden AS Donald Trump telah menguji untuk virus corona untuk kali kedua dan hasilnya menunjukkan negatif untuk virus corona. 

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Wabah Covid-19 di Amerika Serikat (AS) menunjukkan angka tertinggi di dunia, namun Presiden Donald Trump sudah tak sabar ingin membuka kembali sekolah-sekolah dan membatalkan kebijakan tetap tinggal di rumah.

Trump menyarankan sekolah-sekolah dapat dibuka lebih cepat karena banyak gubernur negara bagian telah meliburkan sekolah selama sisa tahun akademik.

"Saya pikir sekolah akan segera dibuka. Saya pikir banyak gubernur sudah berbicara tentang sekolah yang dibuka. Kita telah belajar banyak tentang penyakit ini. Kami akan mengurus banyak orang," kata Trump pada konferensi pers Gedung Putih, Jumat (17/4/2020) waktu setempat atau Sabtu WIB.

Trump mengaku sudah berdialog dengan sejumlah gubernur.

"Saya punya anak laki-laki. Saya ingin melihatnya pergi ke sekolah. Tinggal di rumah itu sangat bagus, tapi saya ingin dia pergi ke sekolah," kata Trump.

Menurut penghitungan Universitas Johns Hopkins, hingga Sabtu setidaknya ada 700.282 kasus positif Covid-19 di AS.

Pada Jumat, 29.131 kasus baru dilaporkan di negara tersebut. Setidaknya 36.822 orang meninggal dunia akibat virus corona.

Pemerintah Donald Trump menerbitkan dokumen panduan setebal 18 halaman, berisi tiga tahapan terkait penanganan Covid-19.

Setiap fase berlangsung minimal 14 hari.

Ada beberapa rekomendasi pada tiga tahapan tersebut, yaitu setiap individu bisa menjaga kesehatan dan memastikan dapat menerapkan jarak sosial (social distancing), pelacakan penularan, hingga pelaksanaan tes virus corona.

Baca: Warga di Sleman Ciptakan Masker Transparan untuk Teman Bisu dan Tuli Agar Lebih Mudah Berkomunikasi

Tahapan pertama banyak menjelaskan tentang kebijakan karantina seperti menghindari perjalanan yang tidak penting dan tidak berkumpul secara kelompok.

Namun dikatakan tempat-tempat berskala besar seperti restoran, tempat ibadah dan tempat olahraga dapat beroperasi di bawah protokol menjaga jarak fisik yang ketat.

Apabila tidak ada kenaikan signifikan virus corona, pada tahap kedua warga dimungkinkan melakukan perjalanan nonesensial.

Dalam tahap kedua ini, sekolah dapat dibuka kembali dan bar dapat beroperasi, syaratnya harus menjaga jarak satu sama lain secara ketat.

Pada tahap ketiga, apabila negara bagian menemukan tren gejala dan kasus menurun, warganya dimungkinkan menggelar interaksi publik namun tetap menjaga aturan jarak fisik.

Dokumen itu juga menyebutkan sejumlah negara bagian dapat memulai kembali kehidupan normal setelah melewati periode evaluasi setidaknya, selama sebulan.

Tak Khawatir

Koordinator Gugus Tugas Virus Corona Gedung Putih, dr Deborah Birx, mengatakan ketika negara-negara bagian mampu memenuhi ketiga tahapan itu, para pekerja di wilayahnya dapat kembali bekerja secara bertahap.

Baca: Ingat Trio Kwek Kwek? Leony, Dea & Alfandy Reuni Nyanyi Bareng Setelah Lama Menghilang! Ini Videonya

Tahapan ketiga akan menjadi kehidupan normal yang baru, katanya, namun tetap disarankan agar orang-orang rentan untuk tetap menghindari kerumunan.

Donald Trump juga memberi dukungan kepada kelompok masyarakat di sejumlah negara bagian yang berdemonstrasi menuntut dibukanya kembali kehidupan setelah ada karantina terbatas.

Dalam akun Twitter-nya Trump menyerukan, “Kebebasan,” bagi Negara Bagian Virginia, Minnesota, dan Michigan.

Dia mengatakan para gubernur yang menerapkan kebijakan tetap tinggal di rumah terkait Covid-19, terlalu kaku.

Di Virginia, ia berkata, "Apa yang telah mereka (para gubernur) lakukan terlalu kuat. Anda tahu, Anda bisa mendapatkan hasil yang sama dengan memberi kelonggaran."

Ditanya apakah sejumlah negara bagian harus membatalkan karantina terbatas, Trump berkata, "Tidak, tapi saya pikir elemen (tindakan) yang telah mereka lakukan terlalu banyak. Terlalu banyak."

Terkait aksi unjuk rasa di sejumlah negara bagian, Trump tidak khawatir aksi itu justru akan memicu penyebaran Covid-19.

"Tidak, orang-orang itu mengekspresikan pandangan mereka. Saya melihat bagaimana mereka sangat bertanggung jawab. Namun mereka diperlakukan agak kasar," katanya.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved