Iran Vs Amerika Memanas
AS Perpanjang Gencatan Senjata, Iran Ogah Negosiasi, Ke Mana Arah Perang Ini? Ada 3 Skenario
Penolakan Iran terhadap syarat yang diajukan AS dalam proses negoisiai tidak serta merta berarti kembali pecahnya perang terbuka.
AS Perpanjang Gencatan Senjata, Iran Ogah Negosiasi, Ke Mana Arah Perang Ini? 3 Skenario yang Mungkin Terjadi
TRIBUNNEWS.COM - Arah peperangan yang dimulai Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan menyerang Iran pada 28 Februari 2026 silam, menimbulkan banyak spekulasi tentang akhir dari konfrontasi.
Situasi saat ini terbilang menarik, di mana AS secara sepihak menyatakan memperpanjang gencatan senjata tanpa menetapkan batas waktu, di sisi lain Iran menolak untuk terlibat dalam negosiasi dan diplomasi apa pun.
Baca juga: Media Israel: Kapal-kapal Iran Lawan Blokade Laut AS dan Melewati Selat Hormuz
Meski Amerika Serikat terus memberi tekanan ekonomi dan militer yang berkelanjutan untuk melemahkan rezim Iran, Iran tampaknya teguh pada pendirian menolak negosiasi.
Iran mengandalkan ketahanan internalnya dan penciptaan titik pengaruh baru di Selat Hormuz sebagai respons dari manuver AS tersebut.
Skenario ini membuka pintu menuju fase yang lebih kompleks dalam konflik saat ini antara AS, entitas Zionis Israel, dan Iran.
Lebih kommpleks lantaran perhitungan regional dan internasional menjadi saling terkait, membuat kawasan tersebut menghadapi kemungkinan terbuka antara eskalasi militer (berlanjutnya perang) atau pencarian penyelesaian politik.
Menerka Langkah Berikutnya Amerika, Perang Hibrida?
Dr Bader Al-Madi, Profesor Sosiologi Politik di Universitas Jerman Yordania, menyatakan kalau kegagalan untuk mengadakan negosiasi seperti yang direncanakan merupakan "kejutan", terutama mengingat kebutuhan kritis akan hal itu, khususnya dari pihak Iran, untuk menyelesaikan konflik ini.
Inti dari jawaban atas pertanyaan "Ke mana arahnya?" peperangan ini terletak pada pemahaman masing-masing pihak tentang potensi manfaat melanjutkan perang versus menandatangani gencatan senjata atau perjanjian damai.
Ia menekankan, Amerika Serikat telah menyimpulkan, setelah semua yang telah terjadi, bahwa Iran tidak bersedia menerima syarat-syarat yang diusulkan Washington.
Namun penolakan Iran, kata dia, ini tidak serta merta berarti kembali pecahnya perang terbuka.
Sebaliknya, hal itu membuka pintu bagi AS untuk ilihan lain: melemahkan rezim Iran melalui apa yang Al-Madi sebut sebagai "proyek hibrida."
Proyek ini bergantung pada ancaman aksi militer yang terus-menerus ditambah dengan blokade ekonomi yang keras yang bertujuan untuk menggoyahkan struktur internal rezim Iran dan merampas sarana untuk bertahan hidup dan melanjutkan kekuasaannya.
Al-Madi menambahkan, blokade angkatan laut dan ekonomi ini akan mengganggu pelabuhan Iran dan memperdalam krisis keuangan, mengingat tidak adanya peluang nyata bagi China atau Rusia untuk campur tangan membantu Teheran.
Terlepas dari dampak negatif yang akan ditimbulkannya pada ekonomi global, khususnya pada China, assesment Amerika menunjukkan kalau melemahkan rezim Iran melalui pendekatan ini tidak akan memakan waktu bertahun-tahun, melainkan periode yang terbatas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bendera-Iran-Amerika-Israel-2.jpg)