Minggu, 12 April 2026
Deutsche Welle

Setengah Tahun Virus Corona, Apa yang Sejauh Ini Diketahui

Enam bulan berlalu sejak Virus Corona SARS-CoV-2 jadi 'terkenal' ke seluruh dunia. Para peneliti sudah menemukan banyak hal terkait…

Pada kasus gawat, Covid-19 bisa memicu kegagalan sejumlah organ tubuh secara bersamaan dan sepsis, yang mengancam nyawa penderita. Reaksi sistem kekebalan tubuh juga memainkan peranan besar, segawat apa efek penyakit ini pada tiap individu.

Terapi Covid-19

Pada awal pandemi virus corona, banyak pasien dengan gejala gawat, dipasangi alat bantu pernafasan atau intubasi pada tahap dini. Kebanyakan meninggal akibat tindakan ini.

Sekarang para dokter di ruang gawat darurat makin jarang menggunakan ventilator, karena dokter ahli paru-paru menegaskan, alat bantu pernafasan di bawah tekanan positif, bisa lebih banyak menimbulkan kerusakan dibanding penyembuhan.

Jadi sepanjang pasien masih bisa bernafas secara mandiri, mereka mendapat tambahan oksigen tanpa dihubungkan ke respirator atau ventilator. Intubasi yakni pemasangan alat bantu pernafasan langsung ke saluran nafas bawah, hanya dilakukan dalam kondisi sangat gawat.

Dalam banyak kasus, ginjal pasien juga mengalami kerusakan akibat COVID-19, dalam hal ini dialisa sangat diperlukan. Perawatan gawat darurat, sekarang ini lebih banyak memonitor kerusakan organ-organ tubuh lainnya.

Proses penyembuhan bisa dipercepat di sejumlah rumah sakit, dengan menggunakan serum antibodi dari pasien COVID-19 yang sembuh kembali. Antibodi ini bertugas melawan virus dalam tubuh pasien yang mendapatkan donasi serum.

Pada umumnya, pasien COVID-19 yang kembali sembuh setelah menjalani pengobatan intensif, harus melakoni tindakan rehabilitasi yang panjang yang disesuaikan dengan masing-masing individu. Rehabilitasi harus disesuaikan dengan riwayat penyakit sebelumnya serta kemungkinan adanya kerusakan organ tubuh.

Obat-obatan dan Vaksin
Sejauh ini belum ada obat-obatan yang benar-benar ampuh melawan Covid-19. Remdesivir menjadi satu-satunya obat farmaka yang menunjukkan keampuhan memperpendek proses penyakit. Walau kini diperebutkan di pasar, obat ini bukan penyembuh ajaib. Obat hanya memperpendek proses penyembuhan beberapa hari pada pasien yang memerlukan tambahan oksigen. Tapi tidak meningkatkan peluangnya untuk tetap hidup.

Para dokter juga menguji coba obat-obatan lain yang sudah eksis di pasaran untuk memerangi virus corona. Misalnya obat anti peradangan Dexamethasone, obat inhibitor polimerase RNA, Avigan serta obat anti malaria hydroxychloroquine. Dua obat pertama belum menunjukkan keampuhan dan keamanannya. Obat ketiga sudah ditolak oleh WHO.

Pengembangan vaksin virus corona juga dikebut. Sedikitnya ada 160 kandidat vaksin yang sedang diteliti dalam beragam proyek di seluruh dunia. Ada tiga jenis vaksin, yakni berupa virus yang dilemahkan, virus mati dan vaksin berbasis RNA. Kandidat vaksin jenis ketiga, merupakan wilayah ilmiah baru yang belum pernah dirambah sebelumnya.

WHO melaporkan, ada lima kandidat vaksin yang hingga akhir Juni 2020 sudah memasuki fase pertama uji coba pada manusia di seluruh dunia. Fase ini menguji keamanan vaksin. Sementara ada 7 kandidat vaksin yang memasuki kombinasi fase satu dan dua, untuk menguji respons kekebalan tubuh. Dan hanya ada satu kandidat vaksin yang sudah memasuki fase ketiga, dengan target menguju efektifitasnya melawan patogen dalam praktek nyata.

Satu lagi vaksin anti TBC yang sudah diberi izin. Namun vaksin BCG ini tidak menarget langsung virus SARS-CoV-2, tapi hanya memperkuat basis kekebalan tubuh bawaan yang sudah ada pada manusia.

Vaksin ini diharapkan sudah masuk ke pasaran akhir tahun ini atau pertengahan tahun depan. Jika kandidat vaksin diijinkan menjadi vaksin, tantangan lainnya adalah memproduksinya dalam jumlah ratusan juta hingga milyaran dosis. Sejumlah industri farmasi sudah menyiapakan diri untuk memproduksinya, walau belum tahu kapan akan memulainya.

Herd immunity
Apakah kekebalan kawanan atau herd immunity bisa terbentuk dengan cepat? Faktanya makin banyak orang di seluruh dunia terinfeksi virus corona. Lebih dari 10 juta orang sudah terinfeksi, tapi dibanding 7,8 miliar penduduk bumi, jumlah itu masih terlalu kecil untuk mencapai kekebalan kawanan.

Tambahan lagi, hingga kini belum diketahui apakah kekebalan tubuh terhadap virus corona itu bersifat permanen atau hanya sementara. Tes darah, swab serta PCR sejauh ini hanya menunjukkan, siapa yang mengembangkan antibodi, atau siapa yang sakit parah dan bisa menulari yang lain.

Fabian Schmidt (as/pkp)

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved