Breaking News:

60 Persen Penyintas Bom Atom Jepang Kesulitan Melanjutkan Aktivitas

60 persen dari total anggota korban bom atom menyatakan akan mengalami kesulitan dalam lima tahun ke depan dalam beraktivitas.

Foto NHK
Masashi Iejima, Direktur Perwakilan Toyukai, kelompok penyintas korban bom atom Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Toyukai, kelompok yang terdiri dari korban yang selamat dari tragedi bom atom Nagasaki dan Hiroshima (yang tinggal di Tokyo dan Hiroshima) membuat kuesioner kepada kelompok-kelompok anggota yang aktif di setiap wilayah Tokyo.

Hasilnya 60 persen dari total anggota menyatakan akan mengalami kesulitan dalam lima tahun ke depan dalam beraktivitas.

"Kami memiliki waktu yang semakin sedikit, tetapi kami percaya itu adalah misi kami untuk menyampaikan pengalaman dan meneruskannya kepada generasi muda selama mereka memiliki kehidupan. Pendidikan dan penalaran pengalaman di masa lalu mengalami bom atom saat Perang Dunia II lalu," kata Masashi Iejima, Direktur Perwakilan Toyukai, Minggu (19/7/2020).

Pasca pengeboman Hiroshima
Pasca pengeboman Hiroshima (Sputnik International)

Menurut Departemen Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan, pada Maret tahun ini, sebanyak 4.691 orang di Tokyo memiliki Buku Pegangan Kesehatan Penyintas (survivor) Bom Atom.

"Toyukai," yang melakukan kesaksian para korban bom atom yang tinggal di Tokyo, membuat kuesioner tentang masalah operasional pada bulan Maret sebagai kelompok anggota di 26 wilayah Tokyo.

Menurut hasil penyelidikan, 17 kelompok (65 persen dari total) mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan menemukan penerus pimpinan kegiatan mereka karena penuaan dan penyakit.

Baca: Roket H2A Milik Jepang Sukses Diluncurkan, Bawa Peralatan Hope yang Dikembangkan UEA

Dalam hal berapa tahun kegiatan dapat dilanjutkan, 61 persen dari total, 16 kelompok, mengatakan bahwa akan sulit untuk melanjutkan kegiatan dalam waktu 5 tahun mendatang, khususnya kelompok Setagaya dan Shinjuku. Bahkan mereka sudah menangguhkan kegiatan.

Meskipun ada banyak orang yang ingin mempercayakan anak-anak korban bom atom dengan kelanjutan operasi, sulit untuk menemukan seorang pemimpin.

Sementara itu Buku "Rahasia Ninja di Jepang", pertama di dunia cerita non-fiksi kehidupan Ninja di Jepang dalam bahasa Indonesia, akan terbit akhir Agustus 2020, silakan tanyakan ke: info@ninjaindonesia.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved