Jumat, 12 Juni 2026

Virus Corona

Saking Lamanya Tak Sekolah, Kelas-Kelas di Kenya Dimanfaatkan Sebagai Kandang Ayam

Keputusan Kenya menutup sekolah hingga Januari tahun depan karena Covid-19 membuat para sekolah swasta nyaris gulung tikar.

Tayang:
Penulis: Ika Nur Cahyani
Editor: Citra Agusta Putri Anastasia
BBC News
Sekolah swasta di Kenya banting setir menjadi tempat peternakan ayam karena pandemi Covid-19. 

TRIBUNNEWS.COM - Keputusan Kenya menutup sekolah hingga Januari tahun depan karena Covid-19 membuat sekolah-sekolah swasta nyaris gulung tikar.

Salah satunya yang dialami sekolah swasta Mwea Brethren School.

Mengutip dari BBC, ruang kelas yang biasanya dipenuhi tawa anak-anak dan kegiatan belajar mengajar tiba-tiba berganti suara ayam. 

Di papan tulis, catatan terkait pelajaran diganti dengan jadwal vaksinasi.

Pemilik sekolah ini, Joseph Maina, terpaksa memanfaatkan ruang kelasnya untuk memelihara ayam.

Baca: Kisah Ayah di India Kayuh Sepeda 7 Jam demi Anak Ikut Ujian Sekolah, Tak Punya Uang buat Naik Bus

Baca: Liburan Musim Panas Dipersingkat, Pelajar SD di Jepang Mulai Sekolah Lagi Hari Ini

Sekolah swasta di Kenya banting setir menjadi tempat peternakan ayam karena pandemi Covid-19.
Sekolah swasta di Kenya banting setir menjadi tempat peternakan ayam karena pandemi Covid-19. (BBC News)

Sejak sekolah ditutup, dia tidak lagi mendapat pemasukan.

Kondisi yang menyulitkan bagi pemilik sekolah swasta di Kenya dimulai sejak Maret silam.

Pemerintah memutuskan menutup sekolah.

Sehingga, Joseph Maina kesulitan karena masih harus membayar pinjaman dan bernegosiasi ulang dengan bank.

Pada awalnya, Maina tidak tahu apa yang harus dilakukan di sekolahnya ini.

"Tetapi kami memutuskan bahwa kami harus melakukan sesuatu (dengan sekolah) untuk bertahan hidup," kata Maina kepada BBC.

Sekolah swasta mendidik sekitar seperlima anak-anak di Kenya.

Petugas Kelurahan Jatirahayu membimbing para siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) saat para siswa tersebut melakukan kegiatan belajar mengajar bersama sistem online di ruang aula Kelurahan Jatirahayu, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (5/8/2020). Di tengah pandemi Covid-19, proses belajar mengajar dilakukan tanpa tatap muka, pembelajaran daring pun diberlakukan. Namun keterbatasan sarana perangkat, fasilitas, dan ekonomi menjadi salah satu kendala yang harus di hadapi oleh masyarakat setempat. Demi memudahkan siswa/pelajar di Kota Bekasi, Pemerintah Kota Bekasi tepatnya di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, memfasilitasi warganya dalam belajar online dengan menyediakan WiFi gratis di ruang aula Kelurahan Jatirahayu. Tribunnews/Jeprima
Petugas Kelurahan Jatirahayu membimbing para siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) saat para siswa tersebut melakukan kegiatan belajar mengajar bersama sistem online di ruang aula Kelurahan Jatirahayu, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (5/8/2020). (Tribunnews/Jeprima)

Sehingga, operasional sekolah ini bergantung pada pendapatannya.

Penutupan paksa karena Covid-19 membuat pemilik sekolah tidak bisa membayar staf dan banyak yang jatuh dalam masalah keuangan.

Menurut Asosiasi Sekolah Swasta Kenya (KPSA), beberapa sekolah swasta berhasil menerapkan pembelajaran online.

Namun, biaya yang didapat tidak bisa menutup operasional dasar para guru.

Sekitar 95 persen dari 300.000 lebih staf sekolah swasta mengalami pemberhentian kerja atau cuti tanpa dibayar.

Selain itu, 133 sekolah terpaksa ditutup secara permanen.

Inisiatif serupa dilakukan sekolah swasta Roka Preparatory yang mengubah tempat belajar mengajar menjadi sebuah peternakan.

"Tidak pernah seburuk ini," kata James Kung'u, pendiri sekolah ini.

Tampak  sayuran tumbuh di lokasi yang tadinya taman bermain.

10 Juta Anak Mungkin Tidak Kembali ke Sekolah

Menurut laporan BBC pada 13 Juli 2020, sebuah laporan mengungkapkan bahwa hampir 10 juta anak di seluruh dunia mungkin tidak akan sekolah lagi karena pandemi. 

Organisasi amal Save The Children menemukan bahwa ada 1,6 milyar anak di dunia yang tidak bersekolah karena lockdown.

Para ahli mengatakan pemotongan dana untuk pendidikan dan peningkatan tingkat kemiskinan yang disebabkan oleh pandemi, berpotensi mengakhiri sekolah bagi jutaan anak.

Anak-anak yang akhirnya tidak pernah kembali ke kelas mungkin harus bekerja untuk membantu menafkahi keluarga mereka.

Baca: Kemendikbud Ungkap Ada Pemda di Zona Merah Bersikeras Buka Sekolah

Baca: Di Sekolah Partai, Bambang Pacul Minta Cakada Sentuh Rakyat dan Pertajam Tagline

Anak perempuan lebih mungkin terdampak daripada anak laki-laki dengan adanya paksaan menikah, menurut laporan itu.

Sebelum pandemi, sekitar 258 juta anak dan remaja di seluruh dunia tidak bersekolah.

Dampak virus Corona membuat jumlah itu meningkat dan 12 negara berisiko ekstrim siswa putus sekolah termasuk Nigeria, Pakistan, Afghanistan dan Yaman.

"Sekitar 10 juta anak mungkin tidak akan pernah kembali ke sekolah."

"Ini adalah keadaan darurat pendidikan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan pemerintah harus segera berinvestasi dalam pembelajaran," kata Kevin Watkins, CEO Save the Children UK.

(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved