Jumat, 8 Mei 2026

Pasangan Ilmuwan di Balik Vaksin Covid-19 Kolaborasi BioNTech dan Pfizer

Senin lalu, BioNTech dan Pfizer mengumumkan bahwa vaksin untuk Covid-19 yang dikembangkan oleh Dr Sahin dan timnya menunjukkan efektivitas

Tayang:
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Sanusi
(Felix Schmitt / Contact Press Images-Focus)
Dr Ugur Sahin (kiri) dan Dr Ozlem Türeci (kanan), pasangan yang mendirikan BioNTech 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, BERLIN - Perusahaan Jerman BioNTech yang didirikan oleh dua orang ilmuwan, telah bekerja sama dengan Pfizer dalam membuat vaksin virus corona (Covid-19) yang diklaim terbukti menunjukkan efektivitas lebih dari 90 persen.

Dua tahun lalu yakni tahun 2018, Dr Ugur Sahin tampil di panggung konferensi di Berlin, Jerman dan membuat prediksi yang cukup berani.

Ia berbicara kepada banyak ahli penyakit menular dan mengatakan bahwa perusahaannya mungkin dapat menggunakan apa yang disebut sebagai teknologi messenger RNA (mRNA) untuk mengembangkan vaksin secara cepat jika terjadi pandemi global.

Baca juga: 4 Pertanyaan yang Belum Terjawab Mengenai Vaksin Pfizer, Apakah Aman Bagi Orang Tua?

Pada saat itu, Dr Sahin dan perusahaannya, BioNTech, kurang dikenal di dunia, karena merupakan perusahaan rintisan bioteknologi Eropa.

Dikutip dari laman The New York Times, Rabu (11/11/2020), BioNTech, yang didirikan Dr Sahin bersama istrinya, Dr Özlem Türeci, sebagian besar berfokus pada perawatan kanker namun mereka tidak pernah membawa produknya ke pasaran.

Baca juga: Uji Vaksin Covid-19: Relawan Vaksin Pfizer Alami Pusing dan Nyeri, Ada yang Merasa Mabuk

Saat itu virus corona (Covid-19) pun belum ada.

Namun kata-kata yang disampaikan Dr Sahin saat konferensi Berlin pada 2 tahun lalu itu tampaknya terbukti.

Pada Senin lalu, BioNTech dan Pfizer mengumumkan bahwa vaksin untuk Covid-19 yang dikembangkan oleh Dr Sahin dan timnya menunjukkan efektivitas lebih dari 90 persen dalam mencegah penyakit ini.

Pengujian dilakukan pada relawan yang belum terbukti terinfeksi corona.

Hasil pengujian itupun membuat BioNTech dan Pfizer diklaim menjadi yang terdepan dalam kompetisi penemuan obat untuk penyakit yang telah menewaskan lebih dari 1,2 juta orang di seluruh dunia.

"Ini bisa menjadi awal dari akhir era Covid-19," kata Dr Sahin dalam sebuah wawancara, pada Selasa kemarin.

Perlu diketahui, BioNTech mulai mengembangkan vaksin pada Januari lalu, setelah Dr Sahin membaca artikel di jurnal medis The Lancet yang membuatnya yakin bahwa virus corona akan meledak menjadi pandemi besar-besaran.

Saat itu virus ini menyebar secara cepat pada beberapa wilayah di China.

Para ilmuwan di perusahaan yang berbasis di Mainz, Jerman ini pun akhirnya membatalkan liburan mereka dan mulai mengerjakan apa yang mereka sebut Proyek Lightspeed.

"Tidak banyak perusahaan di planet ini yang memiliki kapasitas dan kompetensi untuk melakukannya secepat yang kami bisa. Jadi rasanya bukan seperti kesempatan, tapi kewajiban untuk melakukannya, karena saya menyadari kita bisa menjadi orang pertama yang mendapatkan vaksin," tegas Dr Sahin dalam sebuah wawancara bulan lalu.

Setelah BioNTech mengidentifikasi beberapa kandidat vaksin yang menjanjikan, Dr Sahin menyimpulkan bahwa perusahaan akan membutuhkan bantuan untuk uji coba secara cepat, mendapatkan persetujuan dari regulator, dan membawa kandidat terbaik ke pasar.

BioNTech dan Pfizer telah bekerja sama dalam penelitian vaksin flu sejak 2018 lalu.

Kemudian pada Maret 2020, mereka sepakat untuk berkolaborasi dalam penelitian dan pengembangan vaksin Covid-19.

Sejak saat itu, Dr Sahin yang berkewarganegaraan Turki ini menjalin persahabatan dengan Kepala Eksekutif Pfizer Yunani, Albert Bourla.

Keduanya mengatakan dalam sebuah wawancara yang dilakukan baru-baru ini bahwa mereka terikat pada latar belakang yang sama sebagai ilmuwan dan imigran.

Dr Sahin yang berusia 55 tahun itu lahir di Iskenderun, Turki.

Saat berusia 4 tahun, keluarganya pindah ke Cologne, Jerman, kota di mana orang tuanya bekerja di pabrik Ford.

Ia tumbuh besar dan memiliki cita-cita sebagai dokter, kemudian impiannya itu pun menjadi kenyataan setelah menempuh studi di Universitas Cologne.

Pada 1993 silam, ia memperoleh gelar doktor dari universitas itu untuk karyanya tentang imunoterapi pada sel tumor.

Di awal kariernya, Dr Sahin bertemu dengan Dr Türeci yang kini menjadi istrinya.

Saat itu Dr Türeci akhirnya belajar kedokteran.

Dr Türeci, saat ini berusia 53 tahun dan menjabat sebagai Kepala Petugas Medis BioNTech.

Ia lahir di Jerman dan merupakan putri dari seorang dokter Turki yang berimigrasi dari Istanbul.

Pada hari di mana Dr Sahin dan Dr Türeci menikah, keduanya langsung kembali ke lab setelah upacara pernikahan.

Pasangan ini awalnya berfokus pada bidang penelitian dan pengajaran, termasuk di Universitas Zurich, tempat Dr Sahin bekerja di laboratorium Rolf Zinkernagel, yang akhirnya membuatnya memenangkan Hadiah Nobel tahun 1996 dalam bidang kedokteran.

Pada 2001, Dr Sahin dan Dr Türeci mendirikan Ganymed Pharmaceuticals, yang mengembangkan obat untuk pengobatan kanker menggunakan antibodi monoklonal.

Beberapa tahun kemudian, mereka juga mendirikan BioNTech dan mendorong penggunaan teknologi secara lebih luas, termasuk mRNA, untuk mengobati kanker.

"Kami ingin membangun perusahaan farmasi besar di Eropa," jelas Dr Sahin dalam wawancara dengan surat kabar lokal Jerman, Wiesbaden Courier.

Bahkan sebelum pandemi, BioNTech mendapatkan momentumnya.

Perusahaan ini berhasil mengumpulkan ratusan juta dolar dan sekarang memiliki lebih dari 1.800 orang staf.

Kantor cabangnya pun tersebar di seantero Jerman, selain di kota Berlin.

Pada tahun 2018, BioNTech memulai kemitraannya dengan Pfizer.

Kemudian pada tahun lalu, Bill & Melinda Gates Foundation menginvestasikan 55 juta dolar Amerika Serikat (AS) ke BioNTech untuk mendanai perawatan H.I.V dan tuberkulosis.

Di tahun 2019 juga, Dr Sahin dianugerahi Mustafa Prize, sebuah penghargaan dua tahunan Iran untuk Muslim dalam bidang sains dan teknologi.

Dr Sahin dan Dr Türeci menjual Ganymed seharga 1,4 miliar dolar AS pada 2016 lalu.

Kemudian BioNTech menjual sahamnya ke publik pada 2019, dalam beberapa bulan terakhir, nilai pasarnya telah melonjak melebihi 21 miliar dolar AS, ini yang membuat pasangan itu masuk dalam jajaran orang terkaya di Jerman.

Kedua miliarder itu kini tinggal bersama putri mereka di sebuah apartemen sederhana di dekat kantor pusat.

Uniknya, mereka hanya mengendarai sepeda saat pergi ke kantor dan tidak memiliki mobil.

"Ugur adalah individu yang sangat, sangat unik, ia hanya peduli pada sains, membahas bisnis bukanlah hal ia sukai Ia sama sekali tidak menyukainya, ia seorang ilmuwan dan orang yang memiliki prinsip, saya percaya padanya 100 persen," kata Bourla dalam wawancara bulan lalu.

Di Jerman, di mana imigrasi terus menjadi masalah yang memprihatinkan, kesuksesan dua ilmuwan keturunan Turki itu patut dirayakan.

"Dengan pasangan ini, Jerman memiliki contoh cemerlang dari integrasi yang sukses," tulis situs bisnis konservatif Focus.

Sementara itu, seorang anggota Parlemen, Johannes Vogel, menulis di akun Twitter miliknya bahwa jika semua tergantung pada partai sayap kanan alternatif Jerman, maka tidak akan ada BioNTech Jerman dengan Özlem Türeci dan Ugur Sahin di dalamnya.

"Jika menyerah pada kritik terhadap kapitalisme dan globalisasi, tidak akan ada kerja sama dengan Pfizer. Tapi itu membuat kami kuat sebagai negara imigrasi, ekonomi pasar dan masyarakat terbuka," tegas Vogel.

BioNTech sangat sibuk mengembangkan vaksin, sehingga perusahaan ini belum menyelesaikan detail keuangan dari perjanjian kemitraannya dengan Pfizer.

"Kepercayaan dan hubungan pribadi sangat penting dalam bisnis seperti itu, karena semuanya berjalan begitu cepat. Kami masih memiliki lembar persyaratan dan belum mendapatkan kontrak akhir dalam banyak hal," tutur Dr. Sahin.

Dr Sahin mengaku bahwa ia dan Dr Türeci mengetahui tentang data efektivitas vaksin tersebut pada Minggu malam saat menyeduh teh Turki di rumah mereka.

"Kami merayakannya, tentu saja, itu melegakan kami," pungkas Dr Sahin.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved