Jumat, 8 Mei 2026

Virus Corona

Uji Vaksin Covid-19: Relawan Vaksin Pfizer Alami Pusing dan Nyeri, Ada yang Merasa Mabuk

Relawan vaksin ekperimental dari Pfizer mengalami efek samping berupa pusing, demam, nyeri otot dan bahkan merasa seperti mabuk berat.

Tayang:
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Sri Juliati
Freepik/Daily Mail
Uji Vaksin Covid-19: Relawan Vaksin Pfizer Alami Pusing dan Nyeri, Ada yang Merasa Mabuk 

TRIBUNNEWS.COM - Relawan vaksin ekperimental dari Pfizer mengalami efek samping berupa pusing, demam, nyeri otot dan bahkan merasa seperti mabuk berat.

Seperti yang dilansir Daily Mail, salah seorang relawan, wanita berusia 45 tahun, dosis pertama suntukan vaksin Pfizer membuatnya mengalami efek samping seperti suntikan flu, tapi gejalanya lebih parah lagi pada dosis kedua.

Relawan lain, pria 44 tahun bernama Glenn Deshields mengatakan vaksin Pfizer membuatnya seperti mabuk berat, tapi gejala itu hilang dengan cepat.

Lebih dari 43.500 orang di enam negara telah mengambil bagian dalam uji coba fase tiga vaksin dari Pfizer itu.

Baca juga: FAKTA Vaksin Covid-19 Pfizer, Ini Daftar Negara yang Antre Membeli

Baca juga: DOW Ditutup Naik 830 Poin karena Berita Vaksin Covid-19 Pfizer Janjikan Hasil Positif

Orang-orang berjalan di dekat markas besar Pfizer di New York pada 9 November 2020.
Orang-orang berjalan di dekat markas besar Pfizer di New York pada 9 November 2020. (Kena Betancur / AFP)

Hasil terbaru menunjukkan, vaksin Pfizer 90 persen efektif meningkatkan harapan bahwa kehidupan dapat segera kembali normal.

Inggris ditetapkan menerima 10 juta dosis jika vaksin tersebut mendapat persetujuan.

Angkatan Darat Inggris dan NHS dalam keadaan siaga untuk mulai mengeluarkannya kepada mereka yang paling membutuhkan pada bulan Desember.

Testimoni relawan vaksin Pfizer

Carrie, seorang humas dari Missouri yang meminta nama belakangnya tidak disebutkan, mengatakan dia menerima dosis vaksin pertamanya pada bulan September.

Ia lalu mendapatkan suntukan kedua pada bulan Oktober.

Pada suntikan vaksin pertama, Carrie menyebut ia mengalami sakit kepala, demam dan nyeri di sekujur tubuhnya, seperti suntikan vaksin flu.

Kondisinya menjadi lebih parah setelah menerima suntikan kedua.

Carrie mengatakan dia mendaftar sebagai relawan karena dia merasa itu adalah tugasnya sebagai warga negara.

"Ada begitu banyak orang yang menderita," katanya.

"Kita dapat melakukan sesuatu untuk menghentikan penderitaan ini, mengehentikan orang-orang kehilangan anggotanya."

"Kita dapat menyingkirkan virus ini dan kembali ke keadaan normal dalam hidup kita, itulah faktor pendorong untuk ini bagi saya."

"Saya tidak ingin orang lain sakit."

Pengumuman kemanjuran vaksin Pfizer kemarin membuatnya merasa sangat bangga.

Carrie, relawan vaksin Pfizer
Carrie, relawan vaksin Pfizer (via Daily Mail)

Sementara itu Geshields, pelobi dari Texas, mengatakan dia menderita efek samping yang serupa dengan 'mabuk parah'.

Geshields yakin ia menerima vaksin karena ketika ia menjalani tes antibodi dengan dokter, hasilnya positif.

Geshields menambahkan, reaksi kekebalannya sendiri terhadap suntikan itu membuatnya yakin tentang vaksin itu.

"Kakek saya, salah satu kenangan pertamanya adalah tentang lonceng yang berbunyi ketika Perang Dunia I berakhir."

"Itu adalah perang yang mengerikan, hal-hal mengerikan terjadi dan orang-orang senang itu berakhir."

"Dalam pikiranku, aku merasakan hal yang sama ... Aku merasa seperti itu."

"Syukurlah, pandemi ini akan berakhir pada suatu saat."

Geshields, relawan vaksin Pfizer
Geshields, relawan vaksin Pfizer (via Daily Mail)

Uji coba itu buta ganda, yang berarti mereka yang ikut serta tidak tahu apakah mereka telah atau belum menerima vaksin.

Dalam uji klinis, hanya sekitar setengah dari sukarelawan yang diberi vaksin, sedangkan sisanya menerima suntikan larutan yang tidak mengandung vaksin.

Sehingga relawan tidak tahu mereka diberi suntikan vaksin atau tidak.

Para ilmuwan Pfizer melakukan ini agar mereka dapat membandingkan seberapa berisikonya kedua kelompok tersebut tertular virus.

Bryan, 42 tahun, seorang insinyur dari Georgia, percaya dia adalah salah satu relawan yang tidak disuntikkan vaksin.

Bryan tidak merasakan respons kebal terhadap suntikan itu.

Setelah dua suntikan, ia tertular Covid-19 setelah putrinya terinfeksi satu bulan sebelumnya.

Kini mereka berdua telah pulih.

Berbicara tentang mengambil bagian dalam uji coba, Bryan mengatakan dia merasa 'sedikit bangga' mendengar hasilnya yang menjanjikan.

Bryan, relawan vaksin Pfizer
Bryan, relawan vaksin Pfizer (via Daily Mail)

Masih dalam Tahap Pengujian, Vaksin Pfizer Disebut Memiliki Efektivitas Lebih dari 90%

Diberitakan sebelumnya, vaksin eksperimental Covid-19 dari Pfizer tampaknya menunjukkan hasil yang memuaskan.

Seperti yang dilansir NPR, vaksin Pfizer lebih dari 90% efektif mencegah Covid-19, menurut hasil klinis yang dirilis Pfizer pada hari Senin (9/11/2020).

Temuan itu berasal dari analisis sementara dari sebuah penelitian yang melibatkan 43.538 sukarelawan, 42% di antaranya memiliki "latar belakang beragam".

Setiap peserta mendapat dua suntikan dengan selang waktu 21 hari.

Analisis itu membandingkan jumlah kasus Covid-19 di antara relawan yang mendapatkan vaksin dengan relawan yang mendapat suntikan cairan yang tidak mengandung vaksin.

Jumlah relawan di masing-masing kelompok kurang lebih sama.

Foto yang diambil pada 7 Oktober 2020 ini menunjukkan jarum suntik pada ilustrasi yang mewakili Covid-19 (novel coronavirus), di Toulouse, Prancis barat daya.
Foto yang diambil pada 7 Oktober 2020 ini menunjukkan jarum suntik pada ilustrasi yang mewakili Covid-19 (novel coronavirus), di Toulouse, Prancis barat daya. (Lionel BONAVENTURE/AFP)

Dalam rilis berita dari Pfizer dan mitranya BioNTech, 94 kasus Covid-19 yang dievaluasi di antara relawan menunjukkan vaksin itu lebih dari 90% efektif dalam mencegah Covid-19.

Sebelumnya, Administrasi Makanan dan Obat-obatan (FDA) menetapkan batas efektivitas minimum vaksin yaitu 50%.

Vaksin dari Pfizer adalah vaksin eksperimental Covid-19 pertama yang dikembangkan yang bisa melampaui batas tersebut.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

 
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved