Selasa, 9 Juni 2026

Penanganan Covid

China Dituduh Pihak yang Pertama Kali Sebarkan Konspirasi Mengenai Covid-19

Mesin propaganda China memainkan peran kunci dalam menghasilkan konspirasi tentang Covid-19 yang diklaim 'berasal dari negara lain'.

Tayang:
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Hasanudin Aco
Hector RETAMAL / AFP
Anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyelidiki asal-usul virus corona Covid-19, mengenakan alat pelindung terlihat selama kunjungan mereka ke Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Hewan Hubei di Wuhan, Provinsi Hubei tengah China pada 2 Februari 2021 . 

Saat pandemi melanda dunia, China lah yang memimpin penyebaran disinformasi tentang asal usul Covid-19.

Ilmuwan Australia, Profesor Dominic Dwyer yang menyelidiki asal-usul klaim pandemi ini mengatakan bahwa pandemi Covid-19 dimulai di China dan menyebar di Pasar Makanan Laut Huanan di kota Wuhan.

Ia adalah satu dari 14 Ilmuwan yang melakukan perjalanan ke China selama sebulan terakhir dalam misi penyelidikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap virus yang telah menewaskan 2,3 juta orang di seluruh dunia itu.

Namun pada Selasa lalu, banyak yang terkejut mendengar pernyataan pemimpin tim investigasi WHO, Peter Embarek bahwa impor makanan beku (frozen food) seperti daging sapi Australia, diduga menyebabkan munculnya wabah awal.

Hal ini pun dibantah Prof Dwyer yang merupakan seorang Ahli Mikrobiologi dan Ahli Penyakit Menular.

Ia merasa tidak setuju dengan pendapat tersebut.

Prof Dwyer mengatakan sumber virus kemungkinan besar berasal dari kelelawar, sama seperti dugaan sebelumnya.

"Kami tahu bahwa virus lain yang berkerabat dekat dengan (Covid-19) ada pada kelelawar, kita tahu bahwa virus lain seperti MERS dan SARS pada tahun 2003 juga berasal dari kelelawar. Kelelawar ini tentu saja tidak melihat perbatasan, sehingga mereka bisa saja tidak hanya ada di China namun juga di wilayah lain Asia Tenggara dan bahkan di tempat lain di dunia," tegas Prof Dwyer.

Dari kelelawar, penularannya mungkin berpindah ke hewan perantara seperti trenggiling atau kucing yang dijual sebagai bahan makanan di 'pasar basah' hewan eksotis tradisional China.

Sementara itu, pejabat terkemuka dan media sekutu dari China, AS, Rusia dan Iran memposisikan diri sebagai penyebar disinformasi tingkat tinggi.

Mereka menggunakan status mereka untuk menebar keraguan dan memperkuat konspirasi politik yang bijaksana.

Analisis tersebut didasarkan pada ulasan dari jutaan postingan dan artikel media sosial di Twitter, Facebook, VK, Weibo, WeChat, YouTube, Telegram, dan platform lainnya.

China pun langsung bereaksi terhadap retorika berapi-api yang dilontarkan selama berminggu-minggu oleh para pemimpin Partai Republik AS, termasuk Presiden AS ke-45 Donald Trump, yang berusaha mengubah nama Covid-19 menjadi 'virus China'.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China mengatakan bahwa pihaknya telah bekerja keras untuk mempromosikan persahabatan dan menyajikan fakta, sambil mempertahankan diri dari kekuatan musuh yang berusaha melakukan politisasi terhadap pandemi ini.

"Semua pihak harus secara tegas mengatakan 'tidak' untuk penyebaran disinformasi. Dalam menghadapi tuduhan yang dibuat-buat, kami harus membongkar kebohongan dan mengklarifikasi rumor dengan menetapkan fakta," kata Kemlu China dalam sebuah pernyataan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved