Breaking News:

Krisis Myanmar

Polisi Myanmar Ajukan Dakwaan Tambahan Terhadap Aung San Suu Kyi

Polisi Myanmar telah mengajukan tuntutan kedua terhadap mantan pemimpin sah yang terpilih, Aung San Suu Kyi, setelah junta militer merebut kekuasaan

AFP
Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi (kanan) dan Win Htein, kepala anggota komite eksekutif Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), menghadiri upacara pemakaman mantan ketua partai Aung Shwe di Yangon pada 17 Agustus 2017. 

TRIBUNNEWS.COM, YANGON — Polisi Myanmar telah mengajukan tuntutan kedua terhadap mantan pemimpin sah yang terpilih, Aung San Suu Kyi, setelah junta militer merebut kekuasaan dalam kudeta pada 1 Februari lalu.

Hal itu disampaikan pengacara Aung San Suu Kyi, seperti dilansir Reuters, Rabu (17/2/2021).

Pengacara Khin Maung Zaw mengatakan kepada media lokal, Aung San Suu Kyi menghadapi tuduhan kedua melanggar Undang-Undang Bencana Alam negara itu.

Terkait dakwaan tambahan itu, dia mengatakan Suu Kyi telah bertemu dengan hakim dalam sebuah videocall karena peraturan Covid-19.

Namun pengacara  tidak dapat hadir karena mereka belum diberikan surat kuasa.

Dalam dakwaan awal, Suu Kyi telah didakwa mengimpor walkie talkie secara ilegal.

Ditanya tentang kondisi kesehatan Suu Kyi, Khin Maung Zaw mengatakan: "Tidak ada kabar baik. Kami juga belum mendengar atau menerima kabar buruk."

“Tanggal sidang pengadilan berikutnya adalah 1 Maret,” jelasnya.

Sebelumnya Polisi Myanmar telah mengajukan tuntutan terhadap pemimpin pemerintahan yang digulingkan Aung San Suu Kyi karena mengimpor peralatan komunikasi secara ilegal.

Tuntutan polisi ke pengadilan yang merinci tuduhan terhadap Suu Kyi (75) mengatakan enam radio walkie-talkie telah ditemukan dalam penggeledahan di rumahnya di ibukota Naypyidaw.

Halaman
1234
Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved